Balai Walikota

Oleh M. Raji Fudin
Ilustrasi Konten Balai Walikota

Kantor Balaikota masih mempertahankan bangunan kolonial. Seperti negeri ini kekurangan arsitek andal. Lantainya kelabu muram dengan tembok tak pergi dari kesan temaram. Empat pilar besar bundar di depan menyangga atap segitiga sama kaki di atasnya. Di bawah impitan pilar ada satu meja besar berwarna cokelat untuk petugas keamanan.

"Tidak boleh pakai sandal bapak kalau mau masuk", ucap petugas keamanan, mencegah masuk lelaki tua bersandal. "Aku waktu pemilu, nyoblos muka walikota sekarang, pakai sandal juga. Apa suaraku tak dihitung?", jawab lelaki bersandal. Celananya panjang sewarna tembok Balaikota, dengan kaos oblong hitam. Handuk merah yang warnanya memudar mengalung. Kepalanya berpeci hitam menutupi ubun-ubunnya yang botak di antara rambut perak.

Deru mesin kendaraan di jalan depan menemani keheningan dua orang tadi. Bunyi klakson memecahkan perang dingin mereka. Mobil hitam besar berhenti di depan mereka berdua. Sosok yang kepalanya pernah dicoblos lelaki bersandal tadi keluar.

"Pak saya mau bicara", ucap pria bersandal menghadang walikota.
Pria berjas hitam dengan dasi merah menengok sebentar, "Nanti ya pak, di ruangan". Sedang Walikota tak menengok sedikitpun.

"Aku ingat betul menyoblos peci hitam, bukan matanya, memang pecinya hilang, tapi kenapa dia buta".


M-Raji-Fudin M. Raji Fudin
M. Raji Fudin, lahir di Semarang dan berdoa untuk bisa meninggalkannya sebentar.


Balai Walikota Balai Walikota Reviewed by The Kopikim Post on 1/15/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.