Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hujan-Hujan Januari

Oleh M. Raji Fudin
Ilustrasi Hujan-Hujan Januari

Tahun baru saja berganti dan belum berlari terlalu jauh. Musim hujan mengisi sawah-sawah yang berjudi dengan Tuhan. Mata air bercampur dengan asin air hujan yang serupa air mata. "Ini bulan derita", ucap seorang pria muda di sebuah warung kopi kekinian.

"Gunung-gunung muak dengan kelakuan manusia, langit menangis dan membanjiri kota-kota besar, bumi muntah mendengar segala tipu muslihat kaum tamak", ucapnya lebih keras.

"Laut mengasihi beberapa manusia, Tuhan mengambil orang-orang pandai, agar yang lain makin bodoh dan makin gampang dibodohi". Beberapa pengunjung mulai adu lirik mencuri pandang kepada pria muda itu.

"Hutan-hutan menimbun keserakahan manusia. Menutup jalur kehidupan. Supaya manusia ingat hutangnya kepada alam, bukan cuma hutangnya kepada lintah darat". Terlihat seorang pelayan ragu untuk membersihkan meja di samping pria muda itu. Niatnya dengan segera diurungkan katika pria tadi lanjut bicara.

"Hujan-hujan di bulan Januari cukuplah menjadi arti akan hakikat utama manusia", pria muda itu melirik sekitar. "Mati!", ucapnya sambi menghentakan tangan di mejanya.

Seorang perempuan muda kaget dan melepas penyuara jemala yang sedari tadi menghubung di laptop dan menempel di kepalanya. Dengan bingung bercampur kaget ia bertanya kepada pria muda yang satu meja dengannya.

"Kau bicara apa tadi?"

Semarang, 18 Januari 2021


M-Raji-Fudin M. Raji Fudin
M. Raji Fudin, lahir di Semarang dan berdoa untuk bisa meninggalkannya sebentar.


Posting Komentar untuk "Hujan-Hujan Januari"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang