Hutan Terlarang

By Abdul Hakim

Ilustrasi Hutan Terlarang

Pengeras suara tingkat RT beberapa kali berbunyi di Kampung Gunungsari. Pak RT selalu mengulang kalimat yang sama di balik pengeras suara itu, "Bagi siapa saja yang menemukan orang yang berteriak 'minta tolong' itu, segera laporkan ke saya" Ucapnya.

Suara 'minta tolong' itu terdengar setiap satu jam di Kampung Gunungsari. Padahal, Pak RT sudah dibantu oleh beberapa warga lain untuk mencari pemilik suara itu. Dari satu rumah ke rumah lain, dari kebun sampai semaknya, bahkan sawah dan sepanjang sungai kampung. Tak ditemukannya juga pemilik suara yang meminta tolong itu.

Suara seorang perempuan yang mula-mula lirih, lembut, lalu berteriak dan menjerit dengan satu kata yang sama, "Tolong, tolong, tolong!", begitulah berhari-hari suara itu membuat ramai seluruh warga Gunungsari.

Kampung yang lekat dengan sepi-sunyi Gunungsari, berganti pada ramainya suara seseorang yang tak pernah ditemukan. Pak RT dan beberapa warga berkumpul di balai kampung. Mereka menunggu suara itu muncul, dan segera berlari ke arah datangnya suara.

Bahkan, pada sebuah malam dengan purnama penuh, warga Gunungsari yang telah diganggu suara itu, membawa obor beramai-ramai, mengejar suara itu sampai ke hutan, sampai jauh meninggalkan kampung. Mereka terus berlari sambil berkata banyak hal, dari memaki, menyuruh pemilik suara segera muncul, sampai melempar batu ke berbagai arah.

Batu-batu yang dilempar warga Gunungsari tiba-tiba berbalik di tengah hutan itu. Tak ada yang terlihat di sudut lemparan batu itu, kecuali pohon-pohon menjulang dan desir angin yang menggigilkan warga kampung.

Tak mau kalah, warga Gunungsari melemparkan batu di sekitarnya ke berbagai sudut lain. Suara yang muncul bukan lagi sekadar meminta tolong, melainkan ramainya kemarahan dari berbagai mulut di hutan itu.

Dahi berdarah, lengan terluka, wajah lebam terlihat dari warga Gunungsari, oleh lemparan batu-batu yang entah dari mana asalnya. Beberapa yang terluka parah tak sadarkan diri, beberapa yang lain sudah lelah atas lemparan batu yang tak kunjung selesai. Pak RT yang berada di paling depan warga, sudah paling awal terjatuh, bahkan perlahan-lahan semua warga ikut terjatuh di hutan terlarang itu.

Para istri di rumah masing-masing, masih menunggu kepulangan suami yang tak kunjung datang. Suara meminta tolong itu masih terdengar setiap jam. Anak-anak yang ketakutan masih berlindung di pangkuan ibunya. Seorang ibu yang ingin menghibur anaknya, segera menyalakan radio, tapi suara minta tolong itu terdengar lagi di radio, tak hanya terdengar setiap jam, tapi setiap menit suara itu terdengar. Sampai, ada suara seorang reporter yang tiba-tiba muncul, melaporkan kondisi di hutan terlarang, bahwa banyak lelaki sudah mati di hutan terlarang, dengan batu yang digenggam masing-masing. Bahkan, tak hanya warga Gunungsari yang mati di hutan itu, ada warga dari tujuh kampung berbeda yang mati di hutan itu, dengan lemparan batu yang entah dari mana datangnya.

""

Ibu melihat wajahku yang ketakutan. Aku memeluk ibu sekuat tenaga, agar ia tak dapat melepas pelukanku. Lalu, ia urai rambutku, "Nah, begitulah Nak. Kenapa kamu dan anak-anak lain, tidak boleh masuk ke hutan terlarang. Kakek-kakek kita dulu menceritakan hal yang sama. Kalau kamu sudah besar, kamu baru boleh masuk hutan itu", Ucap ibu sambil tetap mengurai rambutku.

Hutan Terlarang Hutan Terlarang Reviewed by The Kopikim Post on 1/20/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.