Jembatan Merah

Oleh M. Raji Fudin
Ilustrasi Jembatan Merah

Jembatan itu menghubungkan Jalan Suryaatmaja ke Jalan Mangunsarkoro. Panjangnya tak lebih dari dua ratus meter, berwarna merah gelap seperti dicat dengan darah. Di bawahnya bukan sungai, tapi jalan lain sepanjang lima ratus meter yang sekarang jarang digunakan, Jalan Sumantri. Jembatan ini melayang menantang gedung-gedung yang julang di tepian.

Di bawah jembatan, beberapa kardus besar ditata rapi membentuk bilik-bilik peristirahatan kecil. Siang hari bilik itu kosong dan akan terisi ketika matahari sudah terpejam. Jalan Sumantri seperti blok perumahan kardus dengan halaman penuh jemuran cucian ketika semakin jarang dilewati.

Satu hari Presiden akan melintasi jembatan merah, melintas dari Jalan Mangunsarkoro ke Jalan Suryaatmaja menuju ke sebuah Gelanggang Olahraga baru yang akan diresmikan. Siang hari sebelum Presiden melintas, bilik-bilik kardus itu masih tertata penuh di sepanjang Jalan Sumantri.

Pagi hari Presiden tiba di Bandara dan langsung masuk mengendarai mobil dinasnya, menuju peresmian Gelanggang Olahraga. Ketika memasuki Jalan Mangunsarkoro, ia terpana dengan warna merah yang mencolok dari kejauhan. "Jadi ini jembatan merah" ucapnya. Ketika sampai dititik tengah jembatan, Presiden melihat sebentar Jalan Sumantri yang ramai dilintasi kendaraan. Kemudian pandangannya kembali ke depan, ia sedang mempersiapkan napas untuk memberi pidato sambutan, ketika napas orang-orang di bilik kardus hilang perlahan.


M-Raji-Fudin M. Raji Fudin
M. Raji Fudin, lahir di Semarang dan berdoa untuk bisa meninggalkannya sebentar.


Jembatan Merah Jembatan Merah Reviewed by The Kopikim Post on 1/20/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.