Lelaki di Atas Dingklik

By Abdul Hakim

Ilustrasi Konten

Seorang lelaki duduk di sebuah dingklik mungil, seusai menyajikan minuman yang kupesan. Ia duduk bersebelahan dengan kompor, gas, dan segala peralatan masak yang melengkapi pekerjaannya.

Lelaki itu membuka percakapan, "Ada patroli, Mas. Kemungkinan jam 9 tutup."

Kami pun ngobrol banyak hal, baik soal patroli malam guna mencenggah penyebaran covid-19, sampai perihal teman kami yang berpindah letak kerja.

Lelaki yang punya seorang anak perempuan ini sesekali mengeluh. Bila warungnya tutup jam sembilan malam, itu artinya dia hanya kerja setengah hari.

Beberapa kabar yang kudapat memang menjelaskan kegelisahannya. Soal pembatasan waktu malam, bagi para pengelola usaha di Kota Semarang.

Di beberapa whatsapp story, aku melihat teman yang mengungkapkan perasaannya, seperti seorang bapak yang menutup warungnya, lengkap dengan suasana tepi jalan yang sepi. Ada juga yang memotret peraturan pembatasan ala walikota Semarang itu, lalu memberikan komentar.

Lelaki di atas dingklik itu menawarkanku agar tak cepat pulang. Katanya, kalau jam 9 malam nanti benar-benar ada razia, silakan masuk ke dalam rumah, santai saja katanya.

Sebelum benar-benar usai obrolan kami. Ia sempat bercerita, ia hendak meminta pada petugas, agar warungnya tak ditutup, dan ia berjanji untuk meminta pembeli agar membungkus pesanannya.

Namun, entahlah, aku tak tahu apakah pesan itu tersampaikan atau tidak nantinya. Sebelum para petugas itu datang, aku lebih dulu pamit, bukan karena jam 9 malam yang sudah lewat, tapi segelas cokelatku yang sudah kosong.

wa ilā rabbika fargab
dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.



Image by bernswaelz from pixabay.

Lelaki di Atas Dingklik Lelaki di Atas Dingklik Reviewed by The Kopikim Post on 1/12/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.