Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pencurian Senja

Oleh Abdul Hakim

Ilustrasi Pencurian Senja

Ruang sidang

Di Pengadilan Negeri Senja
Aku dipanggil sebagai saksi

Seorang Hakim
Tepat di hadapanku mulai bertanya
“Pada kesempatan ini
Anda bersaksi sebagai Konsultan Puisi
Bagaimanakah menurut saudara
Terkait pencurian senja?
Yang dilakukan oleh seseorang
Untuk diberikan pada kekasihnya?"

Aku terdiam
Ketika orang-orang di belakangku
Semakin ribut dengan pendapatnya masing-masing

Cahaya kamera
Bertubi-tubi
Membekas
Di kening dan mata
Para Hakim di depanku
Kamera para wartawan dari penjuru dunia
Hendak menuliskan pendapatku

Tubuhku gemetaran
Apa yang hendak aku sampaikan
Sampai kuberanikan mulut ini mulai berucap
“Yang mulia Hakim
Senja itu soal rasa dan penghayatan
Senja hanya satu
Tapi ia banyak disalin
Menjadi perhiasan, kado, atau apapun
Senja memang sabar dan tabah
Bahkan ia tak pernah menyalahkan
Apapun perbuatan orang pada dirinya
Senja hanya dapat diambil secara utuh
Oleh seseorang yang memiliki ketulusan
Jadi, pantaskah, kita menyalahkan ketulusan seseorang?”

Di belakangku
Orang-orang semakin ribut
Seolah senja hanya milik mereka
Padahal, senja hanya mereka potret
Tanpa mau menikmati senja dengan sesungguhnya
Lalu senja dilupakan
Ketika senja menjadi kenangan menyakitkan
Saat ada perpisahan
Pada waktu senja

Di samping kananku
Seseorang yang mencuri senja
Mulai tersenyum
Bahkan tepat
Pada sepasang mataku

Padahal
Sebulan yang lalu
Aku dan pencuri senja itu memiliki kisah
Kami sepakat untuk saling menjauh
Tepat di waktu senja
Ketika aku tahu
Bahwa Ibunya
Telah melekatkan kasih selainku
Di kehidupan dan hatinya

Ia ucapkan maaf berulangkali
Sampai ia curi senja yang kukagumi
Hanya untuk dikemas
Sebagai permintaan maafnya
Untukku

Di bangku saksi sidang
Aku menunduk
Bukan untuk menatap lantai semesta
Melainkan untuk memejamkan mata
Berharap
Bahwa
Ini
Hanyalah
Mimpi belaka

Kota Semarang, 2018

Posting Komentar untuk "Pencurian Senja"