Perihal Seorang Kakek

By Abdul Hakim

Ilustrasi Perihal Seorang Kakek

Ketika senja telah usai, dan Maghrib sudah terlaksana bersama. Saya dan sahabat berada di sebuah beranda masjid, saat saya masih SMA pada beberapa tahun ke belakang.

Saya dan sahabat sesekali mengikuti pengajian rutin di masjid itu. Pengajian di beranda masjid yang lapang, di samping bedug yang ketika lebaran tiba, diperebutkan anak-anak untuk bersorak-gembira melantunkan takbir.

Saya mengingat sekilas, kami duduk dengan beberapa sepuh desa. Dengan kulit yang keriput, tapi jemarinya terlihat gagah, lengannya kekar, dan segala hal yang menakjubkan sebagaimana yang saya tangkap oleh sepasang mata saya saat itu.

Namun, ada seorang kakek yang menyendiri, sahabat saya mengenalnya, karena ia orang asli desa itu, sedangkan saya hanya pendatang dari provinsi seberang, yang berbeda budayanya, yang berbeda bahasanya, tapi kami sama-sama ingin terus mengaji.

Kami mengobrol dengan kakek itu, sekalipun bahasa saya semrawut, campuran Jawa-Sunda-Indonesia. Beruntungnya si kakek mengerti bahasa indonesia. Beliau menanyakan di mana saya sekolah dan saya tinggal. Saya pun dibantu oleh sahabat saya, agar secara bahasa lebih sopan menjelaskan.

Sampai, pada satu kalimat, saya mengingat peristiwa ini lagi. Ketika beliau bertanya apa cita-cita saya. Saya pun menjawab, dengan khas anak sekolah yang mau ini dan itu, sekalipun bila di pikir saat ini, cukup halu saya menjawabnya.

Kami pun ingin tahu, apa cita-cita si kakek. Ingin tahu bagaimana masa mudanya, dan ingin tahu banyak hal tentangnya.

Beliau sangat pendek menjelaskan dengan kalimat inti, "Saya ingin lebih dekat dengan-Nya dan segera pulang pada-Nya."

Jawaban si Kakek terbawa pulang di kepala saya. Sampai kini, saat saya pindah ke kota lain.

Entahlah, saya tak tahu keberadaan si kakek saat ini. Saya memilih untuk tidak bertanya pada sahabat saya, dan saya memilih menjadikannya sebagai pengalaman makna untuk saya saat ini. Bukankah, pertemuan saya dengan si kakek, menjadi takdir yang direstui-Nya. Agar saya terus membaca ingatan dan pengalaman masa lalu di hidup saya. Seketika, sejarah atau seminimal mungkin bernama riwayat, menjadi hal penting untuk kelembutan hati dan sikap selanjutnya.


Semarang, 17 Januari 2021

Perihal Seorang Kakek Perihal Seorang Kakek Reviewed by The Kopikim Post on 1/17/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.