Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perpustakaan Berdebu

Oleh M. Raji Fudin
Ilustrasi Perpustakaan Berdebu

Seperti perpustakaan kota lain, di kota ini gedung yang berisi arsip dan buku itu juga hanya dipenuhi pegawainya. Bukan karena minat baca warga kota yang rendah, pasalnya perpustakaan ini berdebu. Debu-debu itu masuk di setiap halaman buku. Setiap hari dibersihkan setiap hari juga debu baru datang. Pernah seorang pria masuk memaksa mencari satu buku. Setelah kurang lebih dua menit mengitari ruang pustaka, pria itu keluar dengan bersin hebat. Rentang lima hari, pria itu meninggal dunia.

Warga kota mulai mempercayai perpustakaan itu dikutuk. Ada yang mengatakan dulu lahan yang digunakan adalah bekas kuburan. Yang lain berujar ketika semen dituangkan untuk tiang pancang, di bawahnya ditanam juga sepasang kekasih sebagai tumbal. Sisanya percaya bahwa perpustakaan itu menjadi tempat pembantaian para aktivis ketika reformasi.

Waktu bergulir dan debu kian menutupi gedung perpustakaan. Satu hari, api mambakar gedung itu. Dari angkasa gedung yang terbakar tak lebih dari api unggun yang berasap. Tujuh jam adalah waktu yang cukup untuk melumat gedung perpustakaan. Setelah nyala api terakhir padam dan matahari mulai merangkak naik, terlihat gedung itu legam.

Namun, buku di dalamnya masih utuh dan masih berdebu. Warga mulai percaya kutukan perpustakaan. Pemerintah Kota menganggarkan pembangunan perpustakaan baru dengan koleksi baru di tempat yang baru. Perpustakaan baru itu lebih megah dari sebelumnya. Ketika perpustaan baru sudah diresmikan walikota, warga kota tetap tidak datang.

"Memang ada yang mau baca buku yang dikutuk", ujar salah satu warga dalam bus kota.


M-Raji-Fudin M. Raji Fudin
M. Raji Fudin, lahir di Semarang dan berdoa untuk bisa meninggalkannya sebentar.


Posting Komentar untuk "Perpustakaan Berdebu"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang