Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ranting Ketiga Belas

Oleh M. Raji Fudin
Ilustrasi Ranting Ketiga Belas

Ini hutan kedua yang dikunjungi dalam sehari, untuk mencari sebuah ranting, ranting ketiga belas. Pohon-pohon di pekarangan rumah juga diteliti. Setidaknya kemarin ada lima kampung yang didatangi. Sebelumnya, enam kampung dan beberapa kompleks perumahan kelas menengah juga disambangi. Dia mencoba masuk perumahan kelas atas, tapi hanya berakhir adu mulut dengan satpam gerbang. Bermacam pohon buah mulai dari mangga hingga jambu monyet dan pohon kayu-kayuan dari jati sampai mahoni sudah dipanjat, tapi ranting itu belum didapat.

"Seperti apa ranting itu?" Tanyaku. Dia menoleh tajam sebentar dan kembali lagi memandang tinggi pinus di depannya. Langit sudah meredup dan sejak matahari tergelincir ke barat dia sudah mulai memandangi pinus itu. "Harusnya ada disini" katanya. Seandainya dia menoleh, aku akan memalingkan muka kebelakang. Tapi dia berbicara seolah dengan pohon itu, bukan padaku. "Kita pulang", perintahnya sambil pergi menjauh.

"Pohon-pohon memberitahu mana ranting yang kucari" katanya sambil berjalan menjauhi pohon pinus tadi. "Kebanyakan pohon memang jahil, mereka bilang punya ranting itu, tapi ketika dipanjat, tidak ada. Pinus itu berbeda, dia mengatakan tak punya ranting itu. Dan memang ranting itu tidak ada di hutan ini".

Beberapa tuan rumah yang dikunjungi selalu menawarkan diri untuk mencarikan ranting itu di pohon miliknya. "Perempuan mampu memanjat pohon sekalipun itu Pohon Beringin di tengah kuburan" bentaknya sambil memanjat. Setidaknya tuan rumah tak pernah ditampar ketika merayunya. Entah berapa kali tamparan sudah menghantam, dia selalu menampar ketika kutawari bantuan, terakhir tadi, ketika kutawarkan diri untuk memanjat pinus.

"Ada apa dengan ranting ini?", tanyaku penasaran. "Bukankah di rumahmu ada Pohon Sawo" tanyanya. Kepala kuanggukan. "Besok aku kerumahmu", imbuhnya.

Sewaktu pulang sekolah di kelas 1 SD, aku melihat ada pohon tertanam di pekarangan. Hingga sekarang tak pernah kutanyakan siapa yang menanam pohon sawo itu. Sekarang tingginya beradu dengan atap rumah. Beberapa buahnya pernah menggelincirkan genteng dari atap. Hanya tinggal menunggu beberapa minggu untuk menikmati sawo masak pohon.

"Mau kupanjatkan?" tanyaku ketika dia sedang menatap ujung tinggi pohon sawo. Dia menoleh tajam dan kembali menatap tinggi. "Ini bukan pohonmu."

"Tapi ranting itu ada disini, boleh kupinjam gergaji kayu?", jelas dan pintanya membuatku bingung. Ketika gergaji sudah ditangannya, ia mulai memotong batang pohon sawo itu. Garis awal dimulai melintang setengah meter dari tanah.

Ketika roboh, pohon itu mengenai atap dan memecahkan beberapa genteng yang kemudian menghantam tanah. Ia menghampiri ujung batang atas yang tergeletak di tanah. "Ini dia", gumamnya sambil mematahkan ranting yang terdapat segerombol sawo. "Aku harus merobohkan pohon ini, karena aku tak mendapat izin dari yang punya untuk memanjatnya", dia menjelaskan tanpa diminta.

"Kenapa kau mencari ranting itu?" tanyaku.
"Untuk mematahkannya di depanmu."


M-Raji-Fudin M. Raji Fudin
M. Raji Fudin, lahir di Semarang dan berdoa untuk bisa meninggalkannya sebentar.


Posting Komentar untuk "Ranting Ketiga Belas"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang