Ratusan Surat

By Abdul Hakim

Ilustrasi Ratusan Surat

Sekar tampak ragu, ia enyahkan setiap surat yang datang setiap minggu. Surat-surat yang makin menumpuk di sudut kamarnya. Pena sekadar digenggamnya, kertas kosong tak pernah ada artinya, ia selalu ragu, balasan surat seperti apa yang perlu ditulisnya.

Surat-surat yang menumpuk itu, dititipkan lewat sahabatnya, berasal dari seseorang, yang katanya telah lama mengaguminya. Seseorang yang sangat dikenalnya, tapi tak pernah ada ungkapan langsung dari penulis surat itu.

Sekar ingin menolak kedatangan surat-surat itu, tapi jemari dan hatinya tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya berucap tak mau didatangi surat-surat itu lagi, tapi tak ada keberanian yang dapat diucapnya langsung pada si penulis surat.

Apalagi, surat-suratnya terkadang indah, manja, dan mesra. Seolah ada desir angin pegunungan yang menyejukkan, atau ombak ramah yang menyapa sepasang kakinya. Bahkan, di dalam surat itu, sebuah senja yang menurut Sekar biasa-biasa saja, telah ditulis dengan begitu lembut, lirih, dan sampai ke hatinya.

Kali ini, ia benar-benar ingin menolak kedatangan berbagai surat itu. Mau tak mau, ia harus menolaknya. Dengan balasan surat yang jelas, kata-kata yang tepat, dan tertuju pada si pengirim surat.

Sekar pun membalas ratusan surat itu dengan sebuah surat, dengan kalimat yang amat pendek, "Aku ingin bertemu denganmu." Lalu ia titipkan lewat sahabatnya, dan dikirim pada si penulis ratusan surat itu.

Ratusan surat yang menumpuk di kamar Sekar masih tersimpan. Beberapa hari kemudian, Sekar bertemu dengan si penulis ratusan surat itu. Kali ini, si penulis surat berada tepat di hadapan Sekar. Ia lihat wajah lelaki itu, jemarinya kurus, mungkin karena lelahnya menulis ratusan surat yang hanya dibalas sebuah surat pendek.

Lelaki itu tersenyum, Sekar pun membalas dengan senyuman. Lelaki itu membuka tas hitamnya, dan mengeluarkan sebuah surat lagi. Sekar pun membuka tas merahnya, dan memberikan sebuah surat padanya.

Keduanya membuka masing-masing surat yang diterimanya langsung. Sekar membaca perlahan surat itu, "Sudah lama aku mengagumimu Sekar, dan maukah kau menikah denganku? Segala tanda rasa sudah kutuliskan dalam surat-surat itu." Begitulah isi surat yang dibaca Sekar. Lalu, lelaki itu membuka surat yang ditulis Sekar. Lelaki itu terlihat senang saat membuka balasan suratnya, sampai kemudian ia terjeda saat membaca surat yang ditulis Sekar.

"Terimakasih atas surat-surat indahmu, telah kau hadirkan rembulan yang manis, senja yang jelita, dalam berbagai suratmu itu. Berbagai suratmu tak bisa kubalas dengan sama indahnya seperti buatanmu. Kali ini, kau bebas memandang wajahku, sama seperti saat kau baru mengenalku, lalu membuatmu menuliskan surat-surat itu. Atas segala surat yang tak mampu kubalas. Aku datang untukmu, mengirimkan surat ini secara langsung, tapi ada satu permohonan yang mungkin memberatkan pikiranmu. Aku mohon, biarkanlah aku pergi, tanpa ada lagi surat yang kau kirimkan. Sebab, ada hati yang sedang menungguku, seseorang yang tak bisa menulis keindahan surat sepertimu, tapi ia akan hadir selamanya untukku, sebagai pendamping hidupku. Kirimkanlah surat-surat indahmu, pada seseorang yang menjadi alamat rindumu, bukan lagi aku, tapi ia yang hendak membuatmu bahagia di banyak waktu, seorang perempuan yang akan benar-benar mendampingimu."

Dari aku yang kautuliskan banyak surat
--Sekar Rembulan

Lelaki itu memasukkan surat Sekar pada tas hitamnya. Lalu ia tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Beberapa kali, jemari lelaki itu menyeka sudut matanya. Sekar melihat bercak air di sepasang mata seorang lelaki. Tak pernah ia melihat hal seperti itu sebelumnya. Sekar pun mendekati lelaki yang terdiam di hadapannya. Ia dekati tubuhnya pada lelaki itu, memberi sebuah pelukan, yang bertanda kepergiannya dan berucap, "Aku pernah mencintaimu, tapi tak pernah kauungkapkan langsung perasaaanmu."

Ratusan Surat Ratusan Surat Reviewed by The Kopikim Post on 1/21/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.