Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sorot Mata

Oleh Abdul Hakim

Ilustrasi Sorot Mata

Lelaki dengan tubuh kurus itu memesan dua gelas kopi, satu untuknya, dan satu untukku. Cara ia menggenggam gelas terlihat begitu kuat, keras, dan rahangnya bukan main menonjolkan kewaspadaan bagi yang melihatnya.

Sesekali aku mencuri pandang, pada seorang perempuan berambut pendek di sebelah meja kami. Hanya agar lelaki itu tak menunjukkan sorot mata yang tajam ke arahku.

Lelaki itu berulangkali mengajakku bertemu, bahkan setiap minggu. Bila ia mengirimkan pesan singkat, aku selalu terjeda beberapa menit, ingin menolak pertemuan berlangsung, tapi kepalaku berisi keingintahuan yang besar, pada setiap hal yang dilakukannya. Dengan setiap peristiwa yang dibuatnya.

Penolakan terhadap pertemuan hanya hadir di dalam hati, tapi tak pernah berani kutolak segala permintaannya. Bahkan, aku mau-mau saja, mengirimkan bunga yang dibelinya, untuk kukirimkan pada seorang perempuan yang dikaguminya.

Setiap permintaanya selalu aneh, dan setiap keanehan itu tetaplah membuatku menuruti segala kemauannya. Pernah, pada suatu hari, ia memintaku pergi pada seorang kakek di kaki gunung merapi. Mengambil beberapa senjata tajam, dari parang sampai pedang tajam, yang entah untuk apa.

Bahkan, aku pernah dimintanya ikut ke sebuah rumah di luar kota. Rumah mungil milik seorang perempuan yang dikaguminya. Kami hanya melewati rumah itu, tak mengetuk pintunya, bahkan tak masuk ke pekarangan rumah milik si perempuan. Kami sekadar lewat, ya lewat saja, cuma begitu. Kemudian pulang dengan sebuah bus, yang mengantarkan kami sejauh seratus dua puluh kilometer.

Aku tak tahu apa yang dipikirkan lelaki di hadapanku ini. Badannya boleh saja kurus, tapi ada banyak kekejaman yang dihadirkannya. Bahkan ia telah membunuh puluhan orang, memprovokasi pemberontakan, dan membakar berbagai keributan di berbagai kota.

Gelas kopi ditaruh lelaki itu dengan perlahan, perempuan berambut pendek di sebelah meja kami terlihat hendak pulang, dan lelaki itu mulai berucap, "Kenapa kau?" Aku pun tersentak, segera memandang wajah lelaki itu, sorot matanya tajam tepat ke sepasang mataku, "Nggak, Mas. Aku terbayang buku-buku yang kautulis, dan bikin geger satu bangsa." Ucapku.

Lelaki kurus itu tertawa, sembari memandang perempuan berambut pendek pulang dari warung kopi yang kami datangi. "Lihat perempuan itu, kecantikannya hanya bisa kita tahu, kalau bertemu langsung, atau seminimal mungkin memandangnya." lelaki kurus itu menyeruput kopi lagi, "Sama seperti menulis, aku perlu memandang parang dan pedang secara langsung. Termasuk, aku ingin tahu, apakah di dunia ini, aku punya sahabat. Ternyata aku punya lho, ia yang menemaniku pada banyak hal, sekalipun aku banyak meminta padanya." Tambahnya. Tiba-tiba aku tersenyum, sedangkan dia tertawa.

Posting Komentar untuk "Sorot Mata"