Tiga Ribu Rupiah

By Abdul Hakim

Gambar Konten

Kejadian ini sudah lama sekali, tapi sangat melekat di kepala saya. Ketika itu saya pulang ke kampung halaman, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan oleh kakek nenek saya sampai usia dua belas tahun, dan kemudian pindah ke daerah lain.

Saya duduk di samping rumah, ngobrol segala macem dengan tetangga dan nenek saya. Lalu, ada seorang perempuan datang menemui nenek saya, ia adalah teman baik nenek. Kalau ada pekerjaan di sawah, nenek pun selalu mengajaknya untuk ikut terjun ke sawah, baik dari menanam sampai memanen.

Nenek mengambil sekarung penuh botol-botol bekas dari dapurnya. Perempuan itu lalu mengikat karung tersebut di punggungnya menggunakan jarit. Lalu ia pergi, ke arah timur rumah nenek.

Puluhan menit kemudian, perempuan itu datang lagi ke rumah nenek. Tanpa karung, hanya tersisa jarit yang ia ikat di pinggangnya. Ia pun memberikan uang sebesar sembilan ribu rupiah pada nenek, dan dari sembilan ribu itu, perempuan itu mendapatkan uang tiga ribu rupiah. Enam ribu untuk nenek yang mengumpulkan botol bekas, dan tiga ribu untuk perempuan itu yang pergi ke pembeli, sesuai kesepakatan keduanya.

Si perempuan mengangkat uang sebesar tiga ribu rupiah itu. Berkali-kali ia ucapkan terimakasih pada nenek.

Kemudian ia pergi, tangan saya gatal meraba dompet di saku, dan tiba-tiba terbesit di kepala saya dan teringat sampai saat ini, "Tiga ribu, harga segelas kopi di kota, dan setiap hari saya meminumnya."

Entahlah, saya merasa ada perasaan bersalah pada tiga ribu itu

fa iżā faragta fanṣab
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).

Tiga Ribu Rupiah Tiga Ribu Rupiah Reviewed by The Kopikim Post on 1/13/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.