Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gita Anjani: Penggal Terakhir

Oleh M. Raji Fudin
Ilustrasi Konten

"Seikat mawar itu berapa batang?"
"Pokoknya seikat!"

Amran sedang duduk di bangku depan pasar, melihat lalu lalang kendaraan beroda. Pengendara roda itu terlihat berwarna seperti setumpuk bunga yang sedang dibongkar dari bak terbuka di depan pasar. Selain warna kendaraan yang berbeda, kecepatan mereka sangat beragam. Ada yang terburu-buru, santai, tenang, dan sangat diburu masa. Ia sedang berselancar di internet ketika bunga terakhir berhasil dipindahkan dari mobil ke kios, mencari tahu berapa jumlah batang dalam seikat mawar. Ada yang mengatakan lima batang itu satu ikat, tujuh batang itu seikat, tak jarang ia menemukan jumlah lain yang semakin membingungkan.

Ia berjalan menjauhi tempat parkir, mengikuti hati dan kakinya berjalan menyusuri trotoar pasar. Kerja pemerintah kota terlihat sangat keras. Dulu ia ingat, pasar ini lebih terlihat seperti pasar ikan yang kumuh dan harum. Meninggalkan bau ganjil bagi setiap pengunjung yang datang. Gita bahkan lebih suka bau amis daripada bau ganjil di pasar bunga itu. "Buat apa beli bunga, mending beli bakso" ucap Gita ketika diberi sebatang mawar oleh Amran. "Tadi ada orang lewat, kasihan" ujar Amran. Gita terlihat merah ketika mendengar harga tak masuk akal yang ditebus Amran untuk membeli sebatang bunga itu.

Sekolah swasta yang cukup besar berdiri disebelah pasar. Amran telah melewati beberapa kios bunga tanpa menengoknya dan kini ia berhadapan dengan gerbang sekolah. Dengan sedikit malas ia memutar langkah menuju tempat parkir. Mengadu kaki dan hati yang ia harap mampu dan mau membeli seikat mawar di pasar itu. Langkahnya terhenti ketika ada pengendara motor yang akan masuk taman. Ia melewatkan lagi kios-kios tadi tanpa membeli seikat mawar, bahkan menengoknya.

Juru parkir seketika menghampiri saat Amran memasukan kunci sepeda motor dan menyalakannya. Selembar uang kelabu dikeluarkan bersamaan dengan langit yang mulai mendung. Langit abu-abu itu mengingatkan Amran pada warung bakso kesukaan Gita, di tepi jalanan terjal daerah pegunungan yang dingin dan redup.

*

Seminggu yang lalu, setelah lima hari musim berganti, hujan perlahan turun, air meninggi, dan matahari malu bersinar. Gita pergi melewati batas-batas kota untuk melahap satu mangkuk bakso kesukaannya. Kehangatan ditengah musim hujan, seperti sinar pertama matahari setelah puluhan hari terhalang mega-mega kelabu. Amran menolak permintaan Gita untuk makan bakso, "jalanan licin waktu hujan" alasan yang ia beri. Amran tahu Gita tak berani pergi sendirian, tapi dia tidak terlalu tahu. Ini pertama kalinya Gita pergi keluar kota sendirian dengan sepeda motor.

Jalanan yang dilewati Gita adalah jalan sama yang dulu pernah ia lewati bersama Amran. Betul, jalanan memang sedikit licin. Setelah sampi di tempat parkir masjid, Gita memesan dua porsi untuk dibungkus, dan satu untuk dimakan ditempat. Ia pernah membungkus satu. Memang kuahnya sudah dingin, ia akan menghangatkan kuahnya terpisah, dan merebus bakso dalam air mendidih. "Rasanya tak berubah sedikitpun" ujar Gita waktu itu.

Satu jam Gita menunggu pesanan. Warung tak terlalu ramai, meskipun tak bisa dibilang sepi. Ketika ada dua orang yang baru masuk dan bingung mencari tempat duduk, Gita keluar dan pulang dengan kesal. Ia sudah menyiapkan selembar dua ribu untuk parkir. Tapi tukang parkir di masjid itu tak menghampirinya, sampai ia menyalakan motor dan pergi. Jalanan memang licin. Gita mengendarai motor lebih pelan dari pengendara lain.

*

Amran menuju rumah Gita dan belum mendapat seikat mawar. Seminggu terakhir mereka tak bertemu setelah Gita gagal membeli bakso. Ia memutar jalan kembali menuju pasar bunga. Motor ia parkir di depan bunga logam besar, dengan terburu ia meminta seikat mawar dan menyodorkan selembar lima puluh ribu. Kembalian yang diterima lebih besar dari yang dikira, ia paham kenapa Gita kesal ketika mendapat sebatang mawar mahal dulu. Tukang parkir berlari menuju arah Amran dan ia memutar motor bergegas pergi meninggalkan tukang parkir pasar itu. Dari spion ia melihat bibir tukang parkir yang mengumpat panjang.

Sepeda motor ia parkirkan dengan sembarang. Ia segera mencari tanah kubur baru yang masih menggembung dari kubur lain. Ada tiga kubur baru, nisan kubur kedua bertuliskan Gita Anjani.

Ia kembali mengingat mimpi semalam. "Kenapa kau tak datang ke pemakamanku ran?" ucap Gita. "Belikan seikat mawar ya." Amran menangis dalam mimpi dan sempat bertanya berapa batang dalam seikat mawar. "Pokoknya seikat!" Bentak Gita membangunkan Amran, ia raba bantalnya, basah, matanya seperti mengembun dan dadanya kebas. Seikat mawar ia letakan diatas kubur Gita dengan doa dan air mata.


M-Raji-Fudin M. Raji Fudin
M. Raji Fudin, lahir di Semarang dan berdoa untuk bisa meninggalkannya sebentar.


Posting Komentar untuk "Gita Anjani: Penggal Terakhir"