Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

#3 Surat Kedua

Oleh Abdul Hakim

Ilustrasi Surat Kedua

Banjir hadir di mana-mana, berbagai gunung pun mengeluarkan banyak abu. Semesta seolah sedang menyapa manusia, memberi peringatan, sekaligus mungkin sedang marah. Ainan melihat semua itu dari balik layar televisi di warung kopi Adwa. Beberapakali ia mengetuk dadanya, mengambil nafas, dan melirihkan doa.

Sudut matanya diusap, wajahnya disapu, mengambil ketenangan bahwa semua akan baik-baik saja. Sesekali ia lihat ke arah lain televisi, dimana anak remaja asyik bercerita, bapak-bapak yang mengepulkan asap dari mulutnya, dan Adwa yang tak henti bekerja di dapurnya. Ainan tak berhenti saat melihat Adwa, seksama dengan cara Adwa bekerja, sampai ada pertanyaan yang muncul di kepalanya, “Kenapa hari ini aku ke sini?”Ainan memang bukan asli Gunungsari, ia dari kampung sebelah, tapi selalu diterima kedatangannya, bukan saja oleh Adwa, melainkan warga Gunungsari yang lain, sampai ia cukup dikenal di kampung ini.

Sepasang jemari tangannya menggaruk dua sisi dahinya, mencoba mengingat, apa yang membuatnya datang ke warung kopi Adwa. Di kepalanya, bukan saja soal ingin bertemu Adwa sebagai sahabat, tapi ada sebuah permintaan yang mengantarkannya ke sini. “Ya, ya, ada di dalam tasku,” sambil dibukanya tas hitam, ia melihat sebuah titipan dari Yusman, sebuah amplop berwarna cokelat yang tertutup rapat, seolah tak ingin dibuka orang lain, kecuali Adwa seorang.

“Nggak usah pura-pura lupa, cepat berikan padaku,” tiba-tiba Adwa sudah berada di samping Ainan. Dari dekat, ia tak pernah melihat wajah perempuan yang cukup berbinar seperti Adwa. Detak jantungnya berkelebat, seolah ingin berlari meninggalkan tubuh Ainan. “Ohh, kau tahu mau ada surat ini?” Ucap Ainan. Jemari tangan kanan Adwa langsung saja mengambil surat itu, “Surat yang kauberi tempo hari, adalah pengantar untuk surat-surat berikutnya.”

Adwa pun langsung berjalan ke arah ruang kerjanya, setelah ia ambil sebuah amplop berwarna cokelat. Ainan mengikutinya dari belakang, “Emangnya apa si, isi surat itu? Seolah penting amat, dan kenapa harus lewat aku?” Ucap Ainan. Sambil berjalan dan memegang amplop itu, “Hanya sebuah surat, dengan kata-kata yang cukup banyak menyebut senja, rembulan, dan semacamnya. Kau tahu sendiri kan, cara ia menulis?” balas Adwa.

Bagaimanapun Ainan cukup mengenal Yusman, bahkan di antara lautan manusia yang hidup di bumi, mungkin hanya Ainan yang rela menjadi sahabatnya, mau menerima segala cerita yang terkadang omong kosong, dan terkadang sok tahu. Sekalipun, dalam kepala Ainan, Yusman cukup membantu banyak hal, terutama untuk mengejar keinginannya menjadi wartawan. Ainan pun mengingat bagaimana Yusman memaksanya menuliskan banyak hal, bahkan hampir setiap hari, Ainan diminta Yusman untuk menulis tulisan-tulisan pendek, sampai ia terbiasa untuk menulis, dan kini menjelma sebagai wartawan yang namanya nampang di berbagai penghargaan jurnalisme.

Beberapa tahun lalu, saat Ainan menemani Yusman minum kopi di Temanggung. Mulut Yusman berkomat-kamit banyak hal, mula-mula berbicara soal topik ringan, lalu bergulung pada hal-hal yang mendalam. Seringkali Yusman memancing obrolan dengan hal-hal yang tidak penting, lalu menusuk sangat dalam pada pikiran Ainan yang sebenarnya tak mau diungkapnya. Ketika Ainan keceplosan berbicara sosok perempuan yang dikaguminya, sampai peristiwa masa lalu yang hanya diketahui oleh Ainan dan keluarganya.

Langkah seorang Adwa pun terhenti, lalu duduk dan membuka amplop berwarna cokelat. Tak ada tulisan apapun di atas amplop itu, amplop beserta surat di dalamnya seolah sudah tahu harus dikirim pada alamat penerima. Tak khawatir akan salah alamat, tak khawatir terbuka selain penerimanya. Amplop pun tersobek, surat terseret oleh jemari Adwa, dan sepasang matanya perlahan membaca isi surat yang terlipat.

Surat Yusman kali ini berwarna biru, seolah ingin mengantar isi lautan dan deburan ombak yang menyentuh hatinya, seperti surat pertama yang penuh dengan warna kata dan melekat di kepalanya. Nama Adwa tersusun rapi di baris pertama surat itu, lalu diikuti nama si pengirim surat yang hendak mengajaknya berkelana. Baris demi baris terbaca, bait demi bait membuat pikirannya keluar dari dunia, dan surat itu berakhir dengan satu pertanyaan, “Maukah kau bermain ke sana?” Adwa pun melipat surat itu lagi, ditempelkan di dadanya, dan kepalanya mulai mengeja jawaban dengan sorot mata ke atas langit. Ainan memandang wajah Adwa melamun setelah membaca surat Yusman, ia sungkan bertanya apa isi surat yang membuat Adwa terpancing dengan kata-kata Yusman. Televisi dan segelas kopi menjadi pilihan Ainan lagi, “Jatuh cinta saja kok pake perantara aku, aneh banget kalian.” Ucap Ainan sembari memindah kanal televisi.

Bersambung

Posting Komentar untuk "#3 Surat Kedua"