Biru Baru

By Ade Tri Widyanti

Ilustrasi Konten

Bunga pacar sore kuning mekar dengan sempurna di halaman rumah makan tempat aku menunggu seseorang. Gerimis bergeming meneteskan rintik rindunya. Genangan air sisa hujan menampilkan bayangan sosok perempuan berkacamata. Kesal. Yang ditunggu tak kunjung datang.

‘Pim! Pim!’ suara klakson datang dari belakangku.

Aku menghentakkan kaki kesal.

"Apaan sih?! Jalan juga lebar!" gerutuku.

Aku menoleh ke belakang. Hampir aku lempar lirikan tajam, namun yang disana mengubah tatapanku seketika berbinar riang.

"Hih! Sebel. Kan Hani kaget!" Aku mengenakan helm yang disodorkan padaku disertai tawa jahil dari orang itu. Aku naik motor membonceng di belakangnya.

"Tadi nunggu lama? Gimana kuliahnya?" tanya dia.

"Lama. Banget. Hani kan udah capek, ya. Dah pasrah tadi niatnya kalo jemputan nggak dateng, Hani mau telfon orang lain buat jemputin. Lemes tahu rasanya tadi habis presentasi kelompok. Hani dapet sesi pertama, eh yang nanya banyak banget. Mana Hani tadi malem nggak belajar. Untung Hani satu kelompok sama Farhan, dia yang jawab pertanyaan. Hahaha." Aku tertawa di tengah perpaduan angin sore dan gerimis.

"Farhan?"

"Itu lho. Farhan yang anaknya pinter. Komting juga. Yang kalo ngajak kelompokan di burjoan. Kan Hani udah sering cerita!"

"Oh..yang katamu kumis tipisnya nggemesin, itu?"

Refleks aku mencubit pinggang sosok laki-laki yang ada didepanku.

"Hani nggak pernah bilang dia nggemesin!"

"Hahahaha..."

***

Sesampainya di rumah, Mama menyambutku dengan membukakan pintu.

"Tadi di kampus anginnya kenceng, Han? Mama khawatir tadi sama Hani, soalnya itu RW sebelah ada dua pohon tumbang kena angin."

"Aman tadi kok, Ma. Di jalan Hani pulang juga cuma ada daun-daun berserakan. Iya kan, Pah?" Aku menoleh ke arah Papa yang sedang melepaskan jaket.

"Iya tadi Farhan satu kelompok sama Hani jadi malaikat penolong waktu presentasi." Lagi-lagi Papa belum merasa puas setelah menghabisiku dengan ejekan yang menjengkelkan sepanjang jalan.

Aku mendengus kesal. Wajahku pucat karena kedinginan namun seketika pipiku memerah.

"Males deh sama Papa! Mah, masa tadi sepanjang jalan Papa bahas Farhan terus."

"Farhan siapa?" tanya Mama.

"it." jawabanku terpotong oleh sahutan Papa yang nggak mau ketinggalan.

"Itu, lho. Temen rombel Hani yang bawain kita telur asin waktu ngerjain tugas kelompok di rumah." jawab Papa terkekeh.

"Oh yang pakai baju item celana cream? Hem.. Mama inget. Cakep kok dia."

"Ada apa sih Mama sama Papa?" Aku lari menuju kamar.

Papa dan Mama masih asik ngobrolin nama Farhan sambil membandingkan dengan teman-temanku yang pernah mereka jumpai. Heran, kaya nggak punya hal lain aja yang lebih penting buat dibahas.

"Udah deh, Ma Pa! Malu kalo ada orang lain denger. Ntar dikira orang lewat kalo kalian pengen punya anak cowok." Aku berteriak dari kamar. Disahut dengan gelagak tawa dari Mama Papa. Dan tetap masih berlanjut Farhan..Farhan..Farhan..

Semoga besok pagi tak ada nama itu lagi dirumahku.

***

Hujan semalam sama sekali tak membuatku tertidur pulas. Bagaimana tidak? Aku harus begadang untuk menyelesaikan tugas kuliah yang mulai beranak-pinak. Hari ini ada satu deadline jam 8 harus sudah dikumpulkan.

‘krit.. krit..’ Suara printer memecah keheningan. Tepat pukul 04.00 WIB satu bendel tugas terstreples rapih. Aku memasukkannya ke dalam tas bersama dengan buku-buku kuliah sesuai jadwal hari ini.

Waktu untuk berangkat masih lama, aku menyempatkan diri memeriksa pesan masuk dan menggulir sosial media supaya aku tak tertinggal informasi. Insta story juga tak ketinggalan, beberapa teman kuliah memposting foto prestasi kejuaraan pada lomba tingkat nasional. Ada juga yang memposting KKN Kebangsaan di luar pulau Jawa. Aku menikmati postingan mereka, ikut senang, tak ada rasa iri.. Hanya saja, aku jadi kurang percaya diri jika bertemu mereka di kelas.

‘Grrrtttt... Grrrtttt..’ ponselku bergetar. Notifikasi grup rombel. Aku sangat antusias dan segera membukanya, berharap pemberitahuan tentang kuliah hari ini ditiadakan. Lumayan kan buat ngganti tidurku. Hehehe...

"Teman-teman, maaf hari ini aku ijin nggak bisa berangkat kuliah karena ada kegiatan organisasi. Surat dispensasi sudah aku titipin ke Dinda. Untuk tugas Pak Angga pagi ini jam 8, mohon dapat dikumpulkan secara kolektif ke wakil komting @Hani. Terima kasih. (Farhan)."

Sayang.. Ini bukan kabar gembira. Farhan tak berangkat kuliah. Bukan. Bukan karena Farhan yang nggak ke kampus, tapi aku mendapat tanggung jawab untuk mewakili dia sebagai komting. Merepotkan.

‘Grrtttt....’ Notifikasi telepon dari Farhan. Aku segera mengangkatnya.

"Halo?" sapaku.

"Halo, Hani aku minta tolong ya bantu temen-temen ngumpulin tugas.. Maaf banget ngerepotin, soalnya mendadak dapet kabar tadi malam." suara dari seberang terdengar sangat berhati-hati.

"Iya. Cuma hari ini, kan?" Tanyaku.

"Dua hari, Han..." Kini nadanya memelas.

"Emm.. Baiklah. Jangan slow respon ya kalo aku chatt nanya-nanya."

"Okay, Hani. Makasih banyak, ya... Maaf udah ngerepotin."

"Sama-sama".

Telepon ditutup. Aku membantungkan punggung di atas kasur. Menutup wajah dengan bantal.

***

Ponselku kembali bergetar. Aku tersentak.

"Ya ampun, aku ketiduran!" aku melirik ke arah jam dinding. Jam 07.15.

"Parah." Aku panik. Berlarian ke kamar mandi. Mama sudah ada di dapur.

"Mah, kok nggak bangunin Hani?" Protesku.

"Kan ini hari rabu hani kuliah jam 9." sahut mama.

"Jam 8 Hani ada deadline tugas, Ma." aku nyelonong ke kamar mandi dan menutup pintu.

"Tenang, masih sempet." lagi-lagi Mama menjawab dengan enteng.

Entahlah dalam keluargaku, Mama adalah orang yang jarang marah. Tak pernah memarahiku jika aku terlambat. Sudah dua tahun berjalan tak pernah sama sekali gedor-gedor pintu kamar untuk membangunkanku. Katanya, biar aku belajar tanggung jawab sendiri. Bebas apapun terserah padaku yang penting apapun yang terjadi tanggung sendiri akibatnya.

Aku pikir, sikap mama seperti ini adalah bagian dari salah satu perhatiannya. Aku melihat, banyak teman seusiaku dari luar kota menjadi anak kos. Apapun mereka kerjakan sendiri. Seumur hidupku, awal perjalanan paling kocak kutemukan saat kuliah. Pernah waktu kuliah dikelas sedang berlangsung, seketika hujan deras turun. Anak kos gelisah.

"Aduh jemuran nggak ada yang ngangkatin."

Pernah juga waktu aku di perpus, tiba-tiba ada cowok nyeletuk "Gila, aku lupa nyalain rice cooker."

Aku merasa geli, perkara rumah tangga harus dihadapi saat usia masih terlalu dini. Aku tertawa, kadang juga merasa kasihan. Tapi aku bersyukur karena aku tinggal di rumah yang dekat dengan kampus. Ada Mama dan Papa. Aku sangat tertolong. Tepat pukul 07.40 aku sudah siap berangkat ke kampus.

"Mah, hani berangkat kuliah. Bawa motor sendiri, ya? Udah telat banget nih."

"Sarapan dulu, mumpung ada waktu".

"Udah telat. Soalnya Hani dimintai tolong Farhan buat nggantiin dia sementara jadi komting, ngumpulin tugas temen-temen. Kalo dosennya tau Hani telat, nanti satu rombel kena marah."

"Farhan minta tolong??" Mama nggak nyambung.

"Assalamualaikum." Aku mengabaikan pertanyaan Mama dan segera menyalakan sepeda motor.

"Waalaikumsalam, nanti sore cerita sama Mama, ya. Heheheh."

"MALES!" Aku menarik gas motor. Wusss... Otw kampus.

***

Setibaku di kampus, teman-teman sudah berjejer rapih duduk di gazebo. Wajah mereka panik. Aku lebih pucat. Tanpa babibu, aku memalak tugas mereka.

"Yok yang mau ngumpulin! Buruan sini!"

"Ampun, Han.. Elu yang telat, kita yang diteriakin." Cynthia protes.

"ini bukan galak, bun. Gua panik. Duh nervous kan jadinya.. Eh ada yang mau bantu gua naroh di meja Pak Angga, nggak?"

"Tumpukan segitu minta dibantu?" Galih nyinyir.

"Dihh..yaudah deh. Ganti kalimat. Ada yang mau nemenin gua, nggak?"

"Nggak mau!" Galih kembali menimpal.

"Kenapa?"

"Kesana bukan nemenin masuk ruangan dosen, tapi nemenin elu buat disemprot pak Angga." Kini Ria bersuara. Semua mengangguk bersahutan.

"Jahatnya kalian, yaampun... Ya udah deh. Doain gua ya guys. Deg-degan parah."

"Hati-hati, Han. Kalo Pak Angga marah-marah santai aja. Cowok kalo ngambek nggak ribet kayak cewek, kok. Hahaha."

"Gila emang si Gilang." aku ngedumel tepat di depan pintu ruang dosen.

Aku celingukan mencari sosok Pak Angga. Kursinya kosong. Fiuh, nggak ada. Aman. Aku meletakkan tugas di sana. Berbalik badan, membuka pintu. 'Bukkk!'. Pintu mengenai seseorang. Deg!

"Pak Angga? Duh. Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja." Perasaanku antara tidak enak dan takut dimarahi.

"Hani? Sedang apa kamu di ruang saya?

"Emmm.. Anu, Pak.. Saya mengumpulkan tugas dari bapak."

"Kamu terlambat mengumpulkan?"

"Buk.. Eng.. Tidak, Pak. Jadi, s...." aku gugup ketakutan.

"Halo?" Pak Angga mengangkat telepon.

"Iya sudah. Terima kasih, ya..." Pak Angga menutup telepon.

"Hani, silakan kalau mau keluar. Tadi Farhan menghubungi saya untuk memastikan. Terima kasih banyak, ya."

"Baik, Pak. Sama-sama.. Saya permisi."

Makasih Farhan, kau menyelamatkan aku.

***

Dua hari penuh menjadi komting bukanlah perkara yang mudah. Selain aktif wira-wiri ruangan dosen, aku harus aktif menjawab pertanyaan dari teman-teman di chatt group maupun personal.

Kepala pusing mabok cahaya touch screen, telapak tangan kesemutan, dan ponsel nge-lag saking panasnya. Ampun, deh. Nggak mau lagi pokoknya jadi komting. Parahnya lagi, aktivitas sosial mediaku menjadi berkurang. Jarang bikin konten untuk upload story happy-happy. Mau nggak mau, akhir-akhir ini jadi sering uring-uringan.

Hari jumat menjadi harapan untuk dapat beristirahat. Tak ada jadwal kuliah, 24 SKS sudah aku borong untuk empat hari.

Pagi ini, aku berniat menghubungi Farhan sebelum melakukan quality time. Setidaknya, aku sudah tak memegang tanggung jawab rombel dan aku kembalikan lagi sepenuhnya ke Farhan. Tadi sempat aku mengurungkan niat untuk menghubunginya. Pasalnya, aku khawatir jika mood belum siap dan akhirnya meledak-ledak ke orang yang tidak seharusnya mengetahui kondisiku sedang tidak baik. Aku putuskan mengirim pesan padanya sekarang.

"Farhan, tugasku sudah selesai untuk menggantikanmu jadi komting. Aku kembalikan tugas yang amat sangat menguras emosi ini padamu. Sorry, sambat."

Pesan terkirim. Ponsel kukunci.

Mataku sudah setengah sadar. Aku tidur.

***

"Han.. Hani! Han! Bangun, Han.."

"Mama? Kenapa?" aku mengelap liur yang hampir tumpah.

"Ada Farhan di depan." Ucap mama pelan.

"Ngapain?"

"Ya mana Mama tahu. Buruan temuin, gih.. Kasihan dia kehujanan di jalan."

"Gimana sih, Mama?! Ada cowok mau nemuin gadis satu-satunya nggak di tanyain dulu mau ada perlu apa." Aku kesal. Hibernasiku terganggu.

Mama cekikikan. Papa ketawa di luar, disusul suara Farhan.

"Itu Papa sama Farhan ngapain, Ma?"

"Papa lagi nemenin Farhan. Udah dari setengah jam yang lalu pada asik ngobrol. Udah lah buruan sana temui Farhan."

***

Aku menuju ruang tamu tempat Papa dan Farhan berada.

"Farhan udah lama?" tanyaku.

"Iya lumayan." jawab Farhan datar.

"Papa tinggal ke belakang dulu, ya.. Udah ada Hani." Papa mengedipkan mata ke arahku. Hih Papa genit!.

"Gimana, Farhan?" Tanyaku yang tak ahli basa-basi.

"Ini mau ngomong makasih aja kemaren udah di bantu. Sama aku mau ngasih ini."

"Kan udah tugas aku jadi wakil komting. Santai aja. Lho ini apaan? Nggak boleh gini dong, kan harus profesional." Aku mengamati kotak kecil di atas meja yang disodorkan Farhan.

"Bukan itu..ini beda, kemarin waktu di Palembang aku lihat kotak musik ini jadi inget kamu aja."

Apaan sih maksud dia?

"Oh gitu.. Makasih, jadi ngerepotin."

"Enggak kok, malah aku yang mau ngerepotin kamu lagi."

"Hah?"

"Besok aku mau ke Jakarta ada undangan buat peserta kegiatan yang kemarin aku ikuti."

"Terus?"

"Ya kalo kamu nggak keberatan, gantiin aku lagi jadi komting."

Aku menarik nafas panjang.

"Eh, bentar Farhan.. Aku ada telfon di kamar." Aku lari. Menutup pintu kamar, menutup wajah dengan bantal, dan aku berteriak. "Gila Farhan! Nggak tahu apa gua tekanan batin nggantiin dia jadi komting!! Aaaaaaaaa!."

Aku bangkit. Merapikan tampilan, lalu keluar kamar dengan senyum.

"Sorry, ya jadi nunggu... Gimana tadi? Kapan balik dari Jakarta?"

"Nggapapa.. Hari jum'at depan aku dah sampai Semarang lagi."

"Wah, seminggu ya di Jakarta?" aku hampir melontarkan kata-kata kasar. Tapi aku nggak tega, kasihan Farhan.. Cuma, tetep aja aku sebel!

Akhirnya Farhan pamitan pulang. Aku mempersilakan. Farhan keluar, aku menutup pintu. Papa sama Mama cekikikan.

"Apaan sih? Kebiasaan deh Papa sama Mama seneng banget kalo Hani jengkel."

Mereka tertawa lebih keras. "Ya, lah. Lanjutkan!"

"Pah, Han.. Kita ngopi bertiga di luar, yuk!"

"Males, ma.. Hani pengen rebahan aja."

"Ayo lah..." Mama menarik lengan tanganku yang tak bertenaga. Aku menolak. Papa menggelitiki pinggangku dari belakang. Aku nyerah. Aku kalah.

"Hahaha! Hani geli!! Yaudah, deh. Iya.. Iya.."

"Asik..." Papa dan Mama bersahutan.

Dalam hidupku, tak ada orang yang lebih asyik kecuali Papa dan Mama. Ketika teman-teman seusiaku sudah memasuki dunia perbucinan, aku lebih memilih menemani bucinnya Mama dan Papa. Aku masih ingin menikmati pulang pada sandaran mereka selama masih diberi kesempatan. Bukan maksud mengabaikan laki-laki seperti Farhan yang baik itu. Hanya saja, aku enggan untuk terburu-buru.

Gerimis telah berlalu. Di balik jendela cafe aku menatap luar ke arah langit yang nampak masih sibuk menyeka kerumunan awan mendung. Ia sudah mulai berwarna biru. Mengingatkanku pada wajah orang-orang tersayangku. Selalu ada yang baru meski banyak hari telah berlalu. Dibalik tawa mereka, aku membayangkan bagaimana mereka menyembunyikan ribuan kekhawatiran ketika dulu aku menangis karena haus, hingga saat aku terjatuh bersama sepeda baru. Terima kasih atas semua waktu yang tersita agar selalu bisa menemaniku menyambut warna langit biru yang selalu baru.



Image by Free-Photos from Pixabay

Biru Baru Biru Baru Reviewed by The Kopikim Post on 3/14/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.