Bulan-Bulan Semu

By Ade Tri Widyanti

Ilustrasi Bulan-Bulan Semu

Cangkir kosong itu menatapku. Ia berdiri tepat diantara alunan melodi rindu dan berdampingan dengan poci tua bermuka sendu. Jejak bibirku masih menempel dikeningnya. Lagi-lagi, ia melemparkan senyuman manja. Aku tak menghiraukannya.

Kedatanganku padanya bukan untuk bercengkrama ria. Bukan. Aku datang untuk menyeduh isi kepalaku yang mulai kekeringan. Bulan-bulan penuh revisi berhasil menyerap energi hingga mencabik ketenangan.

Sesekali aku bertanya bagaimana bisa mengakhirinya. Jawaban tetap sama, jalani saja pasti dapat caranya.

Orang-orang bilang, skripsi itu menyeramkan. Aku menjawab, yang menyeramkan itu orang-orang yang bilang skripsi itu menyeramkan. Bukan didukung, malah ditakut-takuti. Ingin ditemani, malah dijauhi. Ingin pulang, tapi tak punya tujuan.

Terlebih ketika orang-orang menanyakan kapan. Menanyakan hal yang sedang diriku usahakan dan akupun tak tahu jawaban. Bagiku, itu seperti suntikan racun lalat buah yang menggagalkan. Kehadirannya menambah runyam keadaan. Menunda panen karena memikirkan kapan. Jiwa terguncang, fisik melemah, dan semangat berubah menjadi amarah.

Aku mengisi cangkir itu lagi. Menuangkan air dari poci ke cangkir untuk yang kesekian kali. Aku mengamati perpindahannya. Pelan-pelan supaya air tak tumpah. Beri garis bayangan pada lingkar cangkir untuk mengetahui kapan harus berhenti. Tepat tiga detik. Debit air sampai pada bayang yang telah ditandai.

Tidak kurang, tidak juga lebih. Aku dengan mudah menggapai bibir minuman pada kecupan pertama.

Air dalam poci masih ada sisa. Ia terjaga kebersihannya, siapapun dapat menikmatinya selagi menggunakan cara sepertiku. Memindahkan air pada cangkir secukupnya dan paham batasannya.

Jangan dihabiskan saat perut telah kenyang. Itu hanya tindakan percuma, aku harus membuang air dalam cangkir yang tidak terminum.

Aku rasa, aku tahu kapan aku harus mengerjakan skripsi dan kapan aku harus mengambil jeda istirahat untuk sementara waktu.

Aku ingin hal yang maksimal, bukan kecepatan.

Aku melihat ke arah laptop yang layarnya sudah dua jam menyala. Sesekali berkedip menawarkan diri untuk disleep. Disana hanya tercantum tulisan BAB IV pada halaman putih bersih, aku belum menemukan sepenggal kalimatpun untuk menemaninya. Tunggulah beberapa saat lagi, pasti aku segera menuangkan gagasan agar kau tak kesepian.

Bulan-Bulan Semu Bulan-Bulan Semu Reviewed by The Kopikim Post on 3/27/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.