Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KKN (Bagian Ketiga): Dua Puluh Kilometer Perjam

Oleh Ade Tri Widyanti
Gambar dari Pixabay

Sore ini, kami kembali membuat kelompok kecil untuk berpencar mengantar lima truk tangki pengangkut bantuan air bersih yang kami datangkan dari donatur di kawasan kampus. Kami berharap dapat mengurangi beban warga dalam menghadapi masalah air yang kian terasa jadi barang mewah.

Kekeringan di desa ini sungguh memprihatinkan. Beruntung, suhu rendah tak membuat kami gerah, menjadi alasan logis mengganti mandi cukup dengan cuci muka. Jangankan membuang-buang air di bak mandi, melihat keringat menetes saja terasa amat sayang. Selain program kerja bertajuk merawat sumber air bersih yang disasarkan pada masyarakat, kami pun memiliki program kerja pribadi untuk menyelamatkan ketersediaan air bersih di posko.

Kalau siang hari, kami usahakan menjalankan kegiatan di luar dan memanfaatkannya untuk menumpang kamar mandi di rumah warga. Bonusnya, kami diajak makan siang di rumah mereka. Jika menjelang sore sampai malam hari tiba, kami meminimalisasi terima minuman bergula. Sedikit beralibi diet manis, namun kenyataannya adalah kami mengurangi kemungkinan untuk bolak-balik buang air kecil. Aneh memang. Tapi inilah yang kami alami dan harus jalani untuk bertahan hidup di sini.

Warga berbondong-bondong menyambut kedatangan kami dengan menenteng jerigen dan ember. Mereka mengerahkan seluruh anggota keluarganya. Antrian melalang sepanjang jalan. Aku menggigit jari. Mudah-mudahan semua kebagian. Mudah-mudahan tak ada yang kecewa dengan membawa pulang wadah kosong.

***

Misi sore ini ditutup dengan senyuman seluruh warga desa. Kami lega. Merekapun lega.

Langit sudah memunculkan spektrum warna jingga keungu-unguan. Kami pulang. Tujuh sepeda motor saling menderu mengusik kunang-kunang yang tengah berlalu-lalang. Tiga belas orang menikmati perjalanan dalam diam. Suara Adzan Maghrib mulai bersahutan.

Ranjau darat tak mempersilakan kami untuk menaikkan angka speedometer. Kami bertahan pada kecepatan rata-rata dua puluh kilometer perjam.

“Apakah tadi truk tangki air lewat jalan ini?” Yoga menyejajarkan laju sepeda motornya dengan kendaraan roda dua yang dikendarai Anton dan aku diboncengannya.

“Itu tidak mungkin. Jalan ini terlalu beresiko. Tadi sore Dea dan aku yang mengarahkan sopir truk lewat jalan memutar lain yang lebih halus.” Anton mengibaskan serangga yang terbang di depan mata nya.

“Lalu, ini tetesan air dari mana? Aku melihatnya sejak di depan gapura balai desa.” Yoga mencurigai tetesan ditengah jalan yang tak menunjukkan ciri-ciri akan segera mengering.

Aku melihat ke arah belakang, mereka semua lebih dahulu menyadarinya sebelum aku. Dea yang berboncengan dengan Lily turut merapat kearah kami. “Itu bukan air. Itu darah. Kalian nggak ngrasain bau amis?” Lily menutup lubang hidungnya.

“Kita berhenti di depan, sebelum memasuki pemukiman.” Yoga ingin memastikan. Kami semua berhenti. Lampu motor menyorot ke arah Yoga yang turun dari motornya. “Warnanya hitam pekat, aroma amis segar. Benar kata Lily”.

“Darah siapapun itu, kita jangan coba cari tahu.” Meva menepuk bahu kananku. Aku terperanjat.

Waktu maghrib akan segera habis, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Arah pandang kami terus tertuju pada tetesan yang melekat akrab dengan jalan yang mulai menipis.

Kabut tebal menyambut kepulangan kami. Dua puluh kilometer perjam nampak membuat mereka menjadi menunggu lama. Aku turun paling awal, bermaksud membukakan pintu untuk teman-teman. Kunci posko di sembunyikan dalam kaleng bekas susu yang dijejalkan dalam semak-semak tanaman hias samping rumah. “Awas!” Terdengar Rifan dan Trian berteriak kompak.

“Rara! Bangkai! Dekat kakimu.” Linda menunjuk kearahku.

“Itu apa?!” Teriakanku lebih keras dari Linda.

“Ayam cemani. Jangan sentuh. Kalian semua, jangan masuk kamar sebelum wudhu.” Suara serak muncul dari balik kegelapan kebun pekarangan yang hanya dihuni tanaman ubi madu.

“Bapak?” Yoga menyapa pria bersepatu boots yang pernah berjumpa denganku waktu itu. Aku mematung. Lily mengambil kunci rumah di dekat kakiku. Meva memegang pergelangan tanganku yang membeku.

Kami semua masuk.

“Tolong cepat tutup pintunya, tubuh Rara sedingin es.” Dea membawakanku air hangat dari termos di dapur. Ia menyatukan dengan air dingin dalam ember. “Rara, ambil niat untuk wudhu,aku izin membasuhmu.”

Posting Komentar untuk "KKN (Bagian Ketiga): Dua Puluh Kilometer Perjam"