Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hujan di Kota Dere

By Ade Tri Widyanti

Ilustrasi Hujan di Kota Dere

Khas aroma debu yang dilebur oleh hujan merasuk dalam tenggorokan. Sedap-sedap menyakitkan. Air menyapu jalanan yang lengan dilalui Dere, bak permadani dengan kilau permata fatamorgana. Dari kejauhan nampak menawan, dari dekat hanya sekujur bayangan orang kepayahan.

Seragam putih biru basah kuyup, rambut yang diikat pita tak lagi berbentuk. Sepasang kaki dibiarkan tak berteman perkara sepatu dimasukkan dalam tas yang dibungkus kantong plastik bekas. Menempuh empat kilometer berjalan kaki bukan suatu kesedihan yang berarti bagi Dere. Namun, kesedihan terbesar Dere terletak ketika orang lain melukai karyanya seperti peristiwa yang terjadi siang tadi. Mengingat itu, Dere mendekap erat gulungan buku gambar di tangannya yang pucat.

Pagi menjelang siang, tepat empat jam sebelum Dere memutuskan melepaskan sepatu ketika gerimis bergeming. Kelas Dere kacau balau. Sebenarnya, bel tanda masuk istirahat pertama telah dibunyikan sekitar tujuh menit yang lalu. Tak seperti biasanya Guru matematika belum memasuki kelas. Alhasil, kelas menjadi tak terkendali.

Ada empat anak laki-laki yang tengah pamer kekuatan dengan beradu panco. Di sudut lain ada dua anak laki-laki saling jahil berujung perkelahian, disaksikan anak lain yang berusaha melerai. Ada pula satu anak perempuan berkeliling ke setiap bangku menjahili teman-teman lain dengan menyodorkan bagian hitam dari penghapus papan tulis. Sisanya, mereka asik di bangku masing-masing. Gelagak tawa ada di setiap pasang bangku dan meja yang tersusun memanjang.

Dere mengabaikan semua yang tengah terjadi dalam kelasnya. Telinga, mulut, dan matanya telah terkunci oleh kertas gambar yang melintang di atas mejanya. Bagi Dere, ini adalah kesempatan emas untuk menunaikan kegemarannya. Menggambar dengan warna pensil crayon.

Dere mulai mempertemukan sketsa gambar dengan warna. Sangat berhati-hati dan teliti. Dere tak mau ada noda lain sedikitpun menempel pada karyanya.

Meja tempat Dere seketika terguncang, crayon warna coklat yang digenggamnya patah tepat di atas sketsa. Butir-butir patahan crayon memercikkan bercak di atas kertas. Dere menarik nafas panjang. Dere bangkit dari bangkunya, mengejar pelaku yang menyakiti karyanya.

"Hei, kau kalau jalan jangan pecicilan!" Dere menarik dasi biru panjang milik teman sekelasnya itu. Nafas temannya tercekat.

Kegaduhan kelas seketika mati suri. Semua terhenyak melihat kemarahan Dere.

Teriakan Dere diiringi dengan suara ketukan pintu ruang kelas pertanda seseorang ijin untuk masuk. Seisi kelas mengalihkan pandangan ke arah pintu itu. Pak Anwar guru seni musik telah berada di sana. Dere dipanggil.

"Masalah besar!" sahabat Dere mengumpat pelan.

Dengan ragu Dere mendekat ke arah pintu, merasa khawatir pada apa yang dilakukan tadi terhadap temannya. Pak Anwar mengajak Dere keluar dari kelas, berjalan beriringan tanpa sepatah kata dan akhirnya berhenti di ruang perpustakaan.

"Dere mau, ya ikut lomba nyanyi di Kota mewakili SMP kita? Latihannya mulai besok sepulang sekolah sampai minggu." Pinta beliau tanpa ketukan satu dua. Dere ingat betul, bagaimana waktu itu ekspresi Pak Anwar ketika memohon pada Dere seorang.

"Maaf, Pak. Saya tidak bisa." Dere sebenarnya kaget, namun terus menolaknya tanpa berpikir panjang.
"Ayolah, Dere mau ya...."
"Saya tidak bisa, Pak."
"Kenapa?"
"Saya tidak bisa, Pak." Jawaban Dere tetap sama, akhirnya Pak Anwar menyerah.

Kubangan air yang terhempas roda mobil membangunkan Dere dari lamunan. Pada waktu yang sama ia baru menyadari ada seseorang turut berjalan di belakangnya. Bunyi kricikan resleting tas sekolah yang tersentak-sentak selaras dengan ketukan langkah kaki bersepatu dari orang itu.

"Kenapa tidak mau?"

Dere mengenal suara anak laki-laki ini.

"Tak usah tengok. Jalan dan jawab saja. Aku ada di perpus siang tadi, Pak Anwar memintaku untuk menunggumu." lanjutnya.

"Oh." Dere tak bersemangat.

"Kita akan latihan bersama besok." anak laki-laki itu berbicara lagi.

"Aku tak mau. Tak punya baju ganti yang bagus untuk kukenakan saat latihan dan saat pentas." Suara Dere terdengar serak ketika melewati jembatan yang di bawahnya terdapat sungai beriak.

Langkah sepatu anak laki-laki itu terdengar dipercepat mencoba mendekat.

"Tetap berjalan di belakangku." Pinta Dere.

Posting Komentar untuk "Hujan di Kota Dere"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang