Menepi

By Abdul Hakim

Ilustrasi Menepi

Lelaki jangkung yang membeli rumah kecil di Gunungsari baru saja tiba. Sekelompok anak muda langsung mendatangi rumahnya, setelah ia diantar sebuah mobil listrik tesla. Tesla putih itu langsung pergi, saat sepasang kaki lelaki itu berjalan ke arah rumah barunya.

Televisi masih memperbincangkan hal sama, begitupun dengan media sosial. Seorang pengusaha ternama dikabarkan telah hilang, pemilik properti yang tak terhitung jumlahnya, sekaligus investor unggul yang kemampuannya tak diragukan.

Wajah lelaki yang ada di layar televisi, sama persis dengan wajah lelaki yang baru saja melangkah ke rumah kecil di Gunungsari. Sekelompok anak muda yang menunggu kedatangan lelaki itu, langsung menghampiri lelaki itu, memberi salam dan diantarkan ke rumah barunya.

Ia memakai kemeja putih, celana kain hitam, sandal slop bergaris putih biru, dan masker hitam menutupi mulutnya. Kacamata tebal dan masker hitam dicopotnya, dan ia sambut kedatangan sekelompok anak muda itu. Lalu muncul sepucuk kalimat, “Jangan beritahu orang luar, kalau bapak di sini.” Sekelompok anak muda itu mengangguk seksama, lalu mengiringi lelaki bertubuh tegap tinggi itu ke rumah barunya.

Mendengar kedatangan lelaki jangkung itu, Bu Lia dengan sigap segera datang ke rumah yang terbilang kecil di gunungsari. Sebuah rumah dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, satu ruang tamu, satu sumur, dapur kecil bertungku, tetapi halamannya luas dengan dua pohon mangga.

Ia duduk di beranda rumahnya, menghadap halaman yang ditumbuhi rumput jepang tipis. Seketika Bu Lia datang, lelaki itu langsung berdiri dan memberi salam pada Bu Lia, dan Bu Lia pun berkata, “Apa kabar Pak Yusman?”

Pak Yusman, lelaki yang menjadi populer di berbagai media dan dikabarkan hilang itu, membalas ucapan Bu Lia, “Baik, Bu Lia. Maaf merepotkan Bu Lia. Saya benar-benar ingin tinggal di sini, dan bersama anak-anak muda ini.” Bu Lia pun bergegas mencari kunci di sakunya, “Mari masuk ke dalam Pak Yusman”.

Seketika Pak Yusman melambaikan tangan, “Nanti saja, Bu. Saya mau ngobrol dengan anak-anak muda ini dulu. Tapi, boleh bikinkan satu cangkir kopi, Bu? Kopi Temanggung yang biasa Bu Lia bikinkan.” Bu Lia pun mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah kecil itu.

Bu Lia masuk ke dalam rumah, buku-buku berjejer rapi di ruang pertama yang Bu Lia masuki. Bu Lia terus berjalan ke balik pintu kain yang menggantung, alat kopi terlihat rapi tertata, alat-alat yang satu per satu didatangkan Pak Yusman, Bu Lia rawat dengan baik. Ada banyak alat dan penyaji kopi di ruang tengah itu, mulai dari yang manual seperti penggiling sampai yang bermesin dan harganya mencapai ratusan juta.

Bu Lia mengingat dengan pasti permintaan Pak Yusman, “Ia ingin tinggal di rumah kecil yang berjarak jauh dari kehidupan kota, rumah kecil tapi halamannya luas, dan harus ada sumur. Nanti di dalamnya, saya akan isi dengan buku dan alat-alat kopi, yang penting bagi saya, mungkin itu saja.” Begitulah ucapan Pak Yusman yang diingat Bu Lia sembari membuat secangkir kopi kesukaan Pak Yusman.

Sembari menunggu kopi tersaji, Pak Yusman berbincang banyak dengan anak-anak muda yang telah lama dikenalnya. Ia mengenang banyak ingatan, saat awal mula mengunjungi Gunungsari, dibawa oleh salah satu anak muda yang lukisannya disukai Pak Yusman. Ia kagum pada sebuah lukisan yang ia beli seharga satu tesla beberapa tahun lalu. Sampai ia mengunjungi Gunungsari dan mendapati anak-anak muda yang ternyata tak hanya jago melukis, melainkan menulis. Lalu ia buatkan sebuah sanggar di Gunungsari, tempat anak-anak muda ini belajar.

Salah satu anak muda mulai bertanya, “Pak Yusman, sekarang Sandi di mana? Katanya dia ikut bapak?” Pak Yusman pun menjawab, “Saya kuliahkan di Inggirs, buat belajar seni.” Kemudian anak muda lain yang sedari awal menahan pertanyaan, akhirnya bertanya, “Lalu kenapa bapak mau tinggal di sini?”

Pak Yusman melirik ke segala arah, “Saya hanya ingin menepi”.

Menepi Menepi Reviewed by The Kopikim Post on 3/18/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.