Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KKN (Bagian Pertama): Pria Bersepatu Boots

By Ade Tri Widyanti

Ilustrasi Konten

Aku duduk di tepi lapangan dengan asik menyaksikan pertandingan lomba agustusan. Seseorang menarik kain lengan kanan bajuku. Ia mengajakku berdiri dan menjauhi kerumunan. Rasa takut muncul ketika mengetahui ciri-ciri orang itu adalah pria berusia hampir 70an tahun yang pernah diceritakan oleh Meva temanku satu posko KKN.

"Pria itu selalu melihat ke arah anak KKN dengan pandangan misterius. Kita wajib berhati-hati." pesan Meva melintas dalam ingatan.

Aku memutar kepala melihat sekeliling, berharap ada teman atau pegawai Desa yang mengetahui aku sedang bersama pria misterius itu.

"Kalian dari mana?" Pria itu memulai pembicaraan. Caranya berbicara senada dengan udara dingin pegunungan yang sedari tadi menusuk jaket hitam KKN yang selalu aku kenakan. Kabut mulai turun. Pos panitia lomba terasa sangat jauh sebab indra penglihatan yang terbatas. Hidungku sedingin hidung kucing kampung.

"Kami mahasiswa dari Semarang yang sedang KKN, Pak." gerakan mulutku mengeluarkan uap putih.

Pria itu terdiam menatapku. Aku menatap balik untuk mengamati cara ia berpenampilan. Tak seperti warga lokal pada umumnya. Sepatu boots hitam nampak menghangatkan kakinya. Ujung bagian celana panjangnya turut terselip dalam sepatu itu.

Aku tak pernah mengira jika Meva mampu menyebutkan ciri-ciri pria ini dengan sangat rinci.

Rambut putihnya tersembunyi di balik blangkon. Ada bekas luka sayatan lampau di pipinya. Sarung kuning yang kusut dengan lekukan hampir membentuk rempel permanen melingkar di lehernya. Jaket hitam yang pudar kemerah-merahan dengan lubang-lubang kecil bekas kelatu rokok lintingan sebesar jari telunjuk. Rokok itu telah mati kedinginan.

"Sebaiknya kalian segera pulang setelah menyelesaikan tugas." Aroma bibir keringnya menyerukan semerbak perpaduan kemenyan, tembakau kering, dan cengkeh yang dibakar. Ini terdengar seperti sebuah ancaman.

"Akan ada darah mengalir disepanjang jalan desa. Jika salah satu dari kalian melihat, jangan diinjak. Pura-puralah tidak tahu. Jangan juga mencari tahu." lanjutnya.

Pria itu menangkap gelagatku yang kebingungan diikuti rasa takut. Aku hampir terjatuh. Seseorang menangkap tubuhku dari belakang. Pria itu menghilang tersapu kerumunan orang-orang yang berusaha membangunkanku.

"Tandu! Tolong, tandu!"
"Siapa?"
“Kenapa?”
“Bawa ke Puskesmas!”

Suara itu terdengar sayu-sayu.


Image by Free-Photos from Pixabay.

Posting Komentar untuk "KKN (Bagian Pertama): Pria Bersepatu Boots"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang