Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Riwayat

By Abdul Hakim

Ilustrasi Konten

Nyanyian yang kata orang-orang menyenangkan, masih sering terdengar, nada-nada memantul tertata, perasaan para pendengar bergejolak masing-masing. Ada yang menikmati dengan kesyahduan, lengkap dengan secangkir minuman yang dipesannya. Bahkan ada yang bermenung, menyimpan emosi di dalam hatinya.

Nyanyian-nyanyian itu masih saja menggoda, tapi tak mampu ia menyentuh apalagi merobek perasaanku. Nyanyian yang kudengar, hanyalah angin lalu, secangkir kopi yang kupesan terkesan kosong, selengkap imaji pun demikian, hilang kosong terbawa angin, yang entah kegundahan ataupun kesunyian.

Sudah lima tahun aku mencarinya lagi, selama itu pun aku menemukan alamat-alamat kosong. Satu per satu jejak yang ia berikan, kucari, dan tak kutemui apapun. Selain kekosongan yang paling memungkinkan, kekosongan yang seolah sejati, kekosongan yang seolah lekat.

Sesekali nyanyian yang kudengar menjeda suaranya, mungkin mesinnya rusak, mungkin mati listrik, atau mungkin ia yang kucari mendengarku. Kalau saja kata-kata ini sampai padanya, aku ingin dua ciuman yang kukirimkan berlangsung lagi. Mengubah takdir di masa lalu, saat dua ciuman itu menjadi yang pertama dan terakhir.

Kutanyai banyak orang tentangnya, kucatat tentangnya sewaktu masih kecil, remaja, lalu dewasa dan sampai pada masa saat ia melahirkanku. Kusimpan dalam riwayat paling rekat, wajahnya terlukis dengan baik, di kepalaku, dan tak ada alat elektronik satupun di zaman ini yang bisa merekam wajahnya dengan jelas, selain perekam riwayat di kepalaku.

Beberapa menit yang lalu, sebelum aku sampai pada secangkir kopi dengan nyanyian yang berisik. Kulihat seekor kucing yang mungil dicium oleh induknya. Apa kau tahu? Ternyata bukan nyanyian yang mampu merobek isi hatiku, tapi dua ekor kucing: anak dan induknyalah yang telah merobek perasaanku, sampai aku menuliskan catatan ini, sampai aku mencari keberadaannya lagi yang telah berpulang.

Riwayat di kepalaku membuka perlahan laci dokumentasinya masing-masing, saat aku memasuki kamar ibu, melihat ibu menderita tertidur selama belasan tahun, lalu menjatuhkan air yang paling pantang dari sudut mata seorang lelaki sepertiku.

Kemudian, kudekati telinga ibu, kusampaikan banyak rindu dengan kata terbata, dan kukirimkan dua ciuman di keningnya. Kemudian pamit pergi ke sebuah kota, dan sesampaiku di kota itu, kuterima kabar kepergiannya, lalu kucari wajahnya lagi, bahkan sampai saat ini, saat riwayat rindu lebih berisik dibandingkan nyanyian-nyanyian itu.



Image by Ratna Fitry from Pixabay

Posting Komentar untuk "Riwayat"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang