Anak Kecil Berambut Pendek

By Abdul Hakim

Ilustrasi Konten

Anak manis berambut pendek duduk sambil makan jagung. Di tepian kota yang berisik kendaraan. Oiya, aku baru sadar, hidungnya pun pendek sepertimu. Apa kau melihatnya? Bisakah kausingkirkan ponselmu sebentar? Lihat anak itu, perempuan mungil itu! Semuanya hampir persis denganmu. Rekah jagung bakar dipegangnya hati-hati. Mungkin masih panas. Mungkin baru pertama kali ia menikmati jagung bakar di kota ini. Biasanya, bila kuingat-ingat, seorang anak di masa kini, selalu dekat dengan ponselnya. Namun, lihat anak manis berambut pendek itu! Dengan jagung bakar dan bumbu yang terberkas di sisi mulutnya. Lucu sekali anak itu. Mana ayah dan ibunya? Apa dia sendiri? Tidak. Tidak. Tidak. Mungkin saja, orang-orang dewasa di sekitarnya, satu-duanya adalah orangtuanya. Jagung yang dipegangnya masih mengepulkan asap. Beberapa butirnya sehitam arang yang membakarnya, butir yang lain kuning matang merekah. Nampaknya lezat. Jagung di genggamanku, kudiamkan saja, aku masih asyik melihat anak perempuan itu. Andai saja dia tersenyum, mungkin semanis caramu tersenyum, atau mungkin lebih jelita. Pipinya lugu, giginya rapi tertata, dan pipinya mengembang empuk. Eh ... Eh ... Eh. Kenapa aku banyak bertanya, kepada siapa aku bertanya seperti ini. Dan siapa yang akan menjawab? Kepala ini terlalu berisik, bahkan sekadar melihat anak perempuan berambut pendek yang sedang makan jagung. Sampai aku melupakan jagungku sendiri. Biasanya, kalau kepala ini terlalu berisik, dan tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut. Aku harus segera menulis. Aku perlu menceritakannya. Dan, kenapa juga aku harus mengingatmu? Menyamakanmu dengan si anak perempuan itu. Sial, lagi-lagi kau tak ada di sini. Ketika hampir persis, caranya tersenyum sama sepertimu. Bukan aku yang mau, ditakdirkan bertemu dengan anak manis yang hampir sempurna sepertimu. Tapi, apa kau tahu, dari mana aku harus memulai untuk menceritakan anak kecil berambut pendek itu? Bisakah kaubantu aku? Kau jangan hanya mengganggu isi kepalaku. Aku tidak sedang jatuh hati denganmu. Itu soal lalu. Aku hanya tidak bisa melepas bayanganmu dari si anak kecil berambut pendek itu. Aku hanya sedikit ingin, bahwa dia adalah anak kita. Sekalipun tanpa restumu, tapi aku bisa egois dalam ceritaku. Oiya, apa aku sudah bercerita dan kau masih membacanya?



Image by Bhikku Amitha from Pixabay.

Anak Kecil Berambut Pendek Anak Kecil Berambut Pendek Reviewed by The Kopikim Post on 4/10/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.