Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bunga Lawang

Oleh Ade Tri Widyanti

Ilustrasi Konten

Senja mengusir kawanan merpati untuk segera pulang. Begitu cara senja datang. Ia memang tidak sedikit dirindukan orang-orang meski caranya yang kasar. Sebab ulahnya, orang-orang melawan senja dengan menyerang menggunakan biang panas. Obor berjejeran di sepanjang jalan, meliuk-liuk di atas benteng pertahanan, bersiap untuk melakukan peperangan dalam diam.

Aku berlari-lari sebelum tawanan yang menyeramkan menemukanku. Sesekali langkahku diperlambat ketika dahan semak nampak goyah. Was-was penasaran tapi aku ingin segera meninggalkan. Semakin aku berlari, semakin aku mengejar kegelapan. Puing-puing bantalan langit malam semakin jelas terlihat. Siapa yang akan peduli berapa jumlahnya, aku hanya berkepentingan mengikutinya. Di bawah kilau puing yang paling besar itu, di sana rumahku.

Rumahku terbuat dari kepangan bambu. Kau bisa mengintip dari luar ketika ruangan di dalam lebih terang. Saat ini, kau bisa melakukannya. Sebab tak ada yang mampu menandingi terangnya lebih dari cahaya di rumahku. Aku ingin sebuah pengecualian, kau nampaknya mampu.

Orang-orang menyebut rumahku adalah masa lalu. Perlu menyusuri lorong panjang kelam untuk menemukannya. Rumahku lebih mahsyur dari pelita masa depan. Dulu mampu berjaya, kini untuk melihat ke arah depan saja suram, bahkan tak nampak seperti sudah tertelan masa kejayaan.

Perihal waktu saja. Begitu orang-orang bilang. Aku diminta mereka untuk segera meninggalkan. Resah pun datang menanyakan kabar. Turun dari khayangan melalui jembatan-jembatan yang hambar.

Pemicu semangatku sudah goyah bersama angan-angan yang aku ciptakan. Aku ingin pulang ke rumah yang bercahaya paling terang. Kini dengan mudah orang-orang tanpa sepeser pertanggungjawaban telah membuyarkan. Milikku bukan miliknya, namun dengan sengaja mereka ingin merebutnya.

Perjalanan melawan senja masih panjang. Aku memutuskan beristirahat di sebuah gubuk yang menyajikan berbagai penawaran yang mampu mengenyangkan. Lisanku hendak bertanya, tapi serambi lebih dulu menyambar tanpa jeda. Mau kemana?. Aku melangkahkan kaki masuk. Sendang di belakang memanggilku. Basuh dulu lukamu. Aku melihat ke bawah, telapak kakiku penuh nanah. Kini aku menghiraukannya.

Mau kemana lagi setelah ini?. Aku mendengar suara lagi dari serambi.

Lelah tak akan berubah menjadi ketenangan, jika kau terus begini. Lagi-lagi suara itu menghampiri.

Ambilah bunga di ruang tengah ini. Pintanya.

Aku mendekat keheranan. Bukan. Ternyata bukan serambi yang berbicara. Ternyata sang pemilik gubuk.

Ambilah. Itu titipan orang tuamu yang dulu pernah hampir terjatuh sama sepertimu. Lalu pergilah, kembali ke tempat asalmu. Aku tak punya banyak sajian untuk memuaskan inginmu. Ucapnya.

Aku mengambil bunga hitam itu. Ia mengeluarkan cahaya amat terang menyilaukan, menunjukkan jalan untuk mengeluarkanku dari sana.

Posting Komentar untuk "Bunga Lawang"