Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ilusi

By Ade Tri Widyanti

Gambar Ilustrasi

Bila warna langit memudar pertanda akan datang hujan, tidak begitu dengan kelopak mata yang sembab kemerah-merahan. Bukan tidak mungkin ketika rona tangis karena haru atau ketika tawa sebab sendu menjadi penentu ‘siapa tahu?’. Sebab, tak selamanya satu ditambah dua sama dengan tiga. Bisa saja jawabannya bukanlah alogaritma angka penuh penafsiran logika, melainkan kata. Kata hati yang tidak dapat ditafsirkan melalui hitungan berpola.

Siapa yang akan tahu, jamu kunir asem yang selama ini aku jual bukan dari perasan sari kunyit dan asam jawa. Melainkan dari muntahan asam lambung bergejolak tak terbendung, dipadukan dengan perasan keringat yang aku kumpulkan dari keliling menggendong bakul yang ketika aku berteriak “jamu.. jamu...” menambah debit liter perbotolnya.

Siapa yang akan tahu, jamu yang aku sajikan bukan menggunakan gelas bebas kuman. Melainkan gelas yang telah digunakan bertahun-tahun yang tertinggal jejak bibir pelanggan yang hanya disiram air bekas siraman. Satupun dari mereka, tidak ada yang akan tahu dan pernah tahu.

Para pelangganku hanya mengetahui yang tertera saja. Mereka sama sekali tidak pernah merasakan keganjilan, bertanya pun tidak pernah. Yang mereka tahu hanya berkat tulisan-tulisan yang aku tempel pada setiap botol. Mereka percaya tulisannya, tidak pernah tahu sebenarnya apa isi dalam botolnya. Atau, ramuan apa yang membuat mereka ketagihan.

Aku masih sangat berbaik hati kalau yang aku masukkan itu bukan racun. Kematian mereka akan menjadi kematianku. Tak ada lagi yang akan menyahut “jamu!” dari balik ganggang pintu dengan membawa serpihan lima ratusan agar tak perlu repot menunggu kembalian.

Namun, jika diantara mereka kudapati keracunan. Aku memberinya layanan cuma-cuma yang berisi paket penyembuhan tanpa pelabelan. Tetesan sari kembang setaman ditambah gula batu dan madu. Efeknya hanya berlaku setengah hari memuntahkan semua yang ada dalam diri peminumnya. Esoknya, ia kembali membeli ‘jamu’ daganganku yang dibayar murah dengan senyum palsu penuh pemanis buatan. Lalu mengutarakan tentang perkumpulan sok tahunya dibantu nyinyiran murni kedengkian. Sepuasnya. Sepulasnya. Perkataannya adalah milik hatinya. Hatinya, belum tentu milik lisannya.

Posting Komentar untuk "Ilusi"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang