Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Irigasi

By Ade Tri Widyanti

Ilustrasi Irigasi

Matahari baru saja tenggelam dengan sempurna. Dari arah yang berlawanan, disusul oleh bulan purnama yang bangun dari titik peraduan. Cerah. Mempesona. Semakin menawan disapa oleh bintang yang jumlahnya tak terkira. Di bawahnya, samar-samar panorama pegunungan utara dataran tinggi Dieng.

Aku dan Bapak berada di antara mereka. Menaiki sepeda motor palang keluaran tahun dua ribu lima. Memanggul tiga batang bambu sepanjang dua meter pada bahu sebelah kiri. Melewati jalan setapak berlapis tanah dengan rumput yang hidup segan mati tak mau. Tak jarang roda sepeda motor hampir tergelincir keluar dari bahu jalan. Kakiku turun berkontribusi menghalau kemungkinan terperosok ke dalam parit.

Sampailah di sepetak tanah berterasiring yang masih beraroma basah getah batang padi. Berhati-hati aku melewati sisa batang padi runcing bekas diperang arit yang kokoh berdiri tegak. Di samping gundukan gabah, kami merakit bambu dibentuk piramida lalu ditutup dengan tenda. Dipasang patok pada setiap ujungnya.

‘Plak!’ aku menepuk-nepuk kaki yang gatal sebab nyamuk. Tak ada penerangan kecuali senter di kepala kami masing-masing. Aku sering berjaga-jaga ketika mendengar suara gerakan dari balik tanaman jagung yang sudah mulai mengering di lahan milik orang lain. Aku khawatir jika itu binatang buas yang hendak menerkam kami.

Tempat untuk bapak bermalam di sini sudah rapi. Kami bersiap untuk pulang, adzan pertanda sholat isya pun berkumandang sayu-sayu dari segala penjuru. Diiringi dengan gemericik air irigasi yang tengah mengalir di sawah-sawah orang lain. Kembali kami menyusuri jalan sempit yang hampir menggigit. Di tengah perjalanan, kami berhenti. Bapak turun.

“Tunggu di sini, jagain motor. Bapak mau buka kunci pintu irigasi dulu.” Bapak menyisingkan celana panjangnya, berjalan menyusuri tandon irigasi yang tinggi. Aku memainkan ponsel sambil berjaga-jaga ketika ada gerakan dari semak yang menghampiri.

“Di sini masih ada macan. Ibu sama bapak juga pernah lihat.” Cerita ibu melintas di telinga mengaburkan suara bancet yang bersahutan. Aku bergidig.

Dari kejauhan, bapak berjumpa dengan seseorang. Berhenti lama. Aku menoleh ke arah lain. Di ujung jalan, nampak dua orang berjalan kaki membawa karung dengan senter di kepala mendekat ke arahku. Keringat dingin menghantuiku. Aku mencabut kontak sepeda motor kemudian lari menuju Bapak.

“De, kau ikut juga?” Pak Tarmo didepan Bapak menyapaku.
“Iya, Pak. Pak Tarmo sedang apa?” Tanyaku ngos-ngosan.
“Mengairi sawah mumpung ada air.”
“Kenapa malam-malam, Pak? Nggak besok aja biar nggak dingin.”
“Wah, De. Kalau besok sudah habis nggak kebagian. Kan lagi musim kemarau susah air. Jadwalnya cuma rabu sama minggu, air kesini.”
“Oalah susah ya, Pak.”
“Tadi kenapa lari-lari?” Tanya Bapak.

Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Aku meringis. Bapak dan Pak Tarmo tertawa paham maksudku. Aku menyerahkan kunci motor untuk beralasan.

“Itu orang biasa nyari ular. Bukan culik. Hahaha.” Bapak tertawa keras. “Ya sudah. Pak Tarmo, titip perawan saya sebentar, ya.”

“Njih, Pak.”

Bapak meniti di atas tandon lagi, menuju pintu air irigasi.

“Pak Tarmo, kenapa irigasi di desa ini hanya ada di sekitar tanah bengkok milik perangkat desa?” Aku membuka pembicaraan.

“Saya juga kurang tahu, De. Tapi, dulu pernah ada proyek pembangunan irigasi. Sumber air akan di ambil dari bendungan besar yang sedang dibangun kala itu. Tahu makam pahlawan di dekat sini?”

Aku mengangguk.

Pak Tarmo menarik nafas “Nah, itu. Karena ada musibah longsor saat pembangunan bendungan, banyak pekerja meninggal dunia sebab tertimpa. Konon juga ada yang tidak ketemu jasadnya. Dulu itu proyek besar. Calon bendungan besar juga. Ya, karena musibah jadi dihentikan.”

“Kenapa tidak dilanjutkan saja di jaman sekarang, pak?”
“Era sudah beda, pemerintah lebih suka proyek jalan aspal daripada jalan air. Mereka lebih senang makan beras impor daripada beras lokal.”

‘Pim!’ Kami menoleh ke arah sumber suara. Bapak sudah ada di atas motor.

“Lho, Bapak lewat mana?” Gerutuku.
“Pak Tarmo, terima kasih. Ayo, De!” Bapak berteriak.
“Pak Tarmo, saya duluan.” Aku berpamitan.
“Ya, De. Hati-hati.”

Posting Komentar untuk "Irigasi"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang