Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kota Merah

By M. Raji Fudin
Gambar Ilustrasi

Dengan tangan dingin bersarung besi mengkilap, seorang Walikota memberi titah mendesak kepada rakyat dan siapapun makhluk yang mendiami kotanya. Dalam rentang satu minggu setelah ini, semua rumah harus dicat merah, tanpa terkecuali.

Polisi dan Militer dari beberapa kota tetangga diminta turut serta menyukseskan program "Kota Merah" dalam rangka menyambut hari jadi Negara yang ke Dua Ribu. Polisi dan Militer kota ini sibuk mengecat pos-pos dan markas mereka sehingga untuk mengawal Kota Merah ditingkat kelurahan sangat susah.

Presiden yang mendengar program itu melayangkan surat apresiasi dari Istana Negara, bunyinya kurang lebih menginformasikan pemindahan puncak peringatan hari jadi Negara ke kota ini. Walikota girang kepalang. Beberapa pasukan dari kota tetangga didatangkan lagi, diminta turut bantu menyukseskan. "Jangan ada warna selain merah, sekalipun itu kandang sapi," ucapnya, "jika ada warna lain, rubuhkan."

Toko-toko cat kehabisan warna merah. Mereka berjanji akan menyediakan cat dalam tempo setengah hari dengan harga melambung lebih dari semula. Dari kantornya yang dingin, Walikota membayangkan dirinya mendapat penghargaan negara, ditunjuk partai maju menjadi gubernur, ditarik presiden menjadi menteri, kemudian mencoba peruntungan menjadi presiden. "Negara merah tidak buruk juga." Ia membayangkan setiap gedung menjadi merah. Jalan diaspal merah. Lampu jalan yang semula putih terang diganti merah remang. Dari satelit, Negara ini terlihat merah seperti genangan darah. Dunia akan takjub. "Merah artinya keberanian dan optimisme."

Satu hari sebelum tempo satu minggu, kota sudah terlihat merah, beberapa orang merapikan cat tembok bagian dalam yang kurang tebal merahnya. Hari-hari kemarin mereka sibuk mengecat genteng dan tembok luar. Walikota bertambah senang ketika melihat pos-pos militer dan polisi berubah merah meninggalkan loreng hijau yang lama dominan.

Seperinjakan gas dari batas kota, sebuah rumah belum berwarna merah. Itu rumah Kaman, pria gaek yang ditinggalkan istrinya tak lama setelah anak mereka pergi ke luar kota. "Kota ini tidak membuatku berkembang," kata si anak. Kaman tak mampu membendung tekad anaknya juga tangis istrinya yang melihat anak semata wayangnya melenggang jauh. Air mata itu terus mengalir sampai liang lahat, membasahi kafan istri Kaman sampai adzan dikumandangkan.

Setelah istrinya tiada, Kaman hidup seperti biasa. Mengais botol demi botol di sepanjang jalan. Menjualnya untuk beberapa lembar uang. Pulang lalu mandi dan tidur. Tidak ada yang berubah dari tabiatnya. Setidaknya orang-orang berpikir demikian. Rumah Kaman sedikit lebih besar dari kandang kambing, dengan dinding pilahan bambu dan lonjoran kayu tipis panjang berlantai tanah padat. Rumah itu belum pernah dicat, kecuali oleh air hujan dan terik matahari. Kaman mendadak bingung ketika titah Walikota tersiar lewat toa masjid. Dilihatnya seisi rumah, tidak ada perabot yang bisa dijual. Uang hasil memungut botol tidak cukup untuk membeli cat.

Satu hari sebelum tempo satu minggu, dua orang polisi mendatangi rumah Kaman. "Pokoknya besok harus merah." Mereka akan meninjau rumah Kaman besok, jika belum berwarna merah, rumah yang sedikit lebih besar dari kandang kambing itu akan dirubuhkan. Setelah dua polisi itu pulang, Kaman mengunjungi rumah tetangga, "besok tolong subuh datang ke rumah, ada cat merah, tapi mungkin tidak banyak, boleh bantu mengecat?" ujarnya. Tetangga Kaman mengangguk iba.

Presiden bertolak dari ibukota subuh hari. Ia ingin menikmati optimisme kota ketika surya merekah. Pesawat melayang ketika tetangga Kaman mengetuk pintu rumah Kaman. Dilihatnya air merah mengalir dari dalam. Ia berpikir, mungkin cat yang sudah dibeli Kaman tumpah. Ia mulai membuka rumah yang sedikit lebih besar dari kandang kambing itu dengan perasaan iba.

Presiden melandas ketika jenazah Kaman baru terbungkus. Darah terus mengalir dari leher yang merekah lebar. Dari bandara yang berwarna merah, Presiden mulai menuju Balaikota, tempat puncak acara hari jadi Negara yang ke Dua Ribu. Ia memilih jalan memutar yang lebih jauh untuk menikmati optimisme kota merah.

Sepuluh orang polisi datang meninjau rumah Kaman yang belum berwarna merah. Ketika jenazah Kaman diangkat menuju kuburan, rumah Kaman dirubuhkan. Presiden yang baru melihat Balaikota kurang dari satu menit bergegas menuju bandara. Ia kecewa melihat gedung Balaikota yang masih berwarna kelabu seperti mendung yang lebih murung. Walikota terdiam. Angannya perlahan jatuh seperti meteor yang tak bisa kembali ke langit. Adzan dikumandangkan di liang, ketika Presiden pergi meninggalkan kota merah dengan balaikota kelabu. Di depan mata Walikota, empat buah eskavator sudah tiba.

Semarang, 16 April 2021

Posting Komentar untuk "Kota Merah"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang