Perjalanan Pulang

By Ade Tri Widyanti

Gambar Ilustrasi

Jalur ini terlalu banyak menyimpan informasi dari masa ke masa. Dimana ketika bayi yang baru dilahirkan hingga orang yang mati kecelakaan. Juga telah melalui banyak rasa, dari cerita duka sampai bahagia. Ia pun sangat berkontribusi dalam menjadi saksi, ketika perpisahan hanya diantarkan dengan lambaian tangan. “Biar jalan ini yang mengantarkanmu sampai ke tujuan.”

***

Biar jalan ini yang mengantarkan aku kembali. Pulang. Kini aku hanyalah berteman baju hangat dan tas punggung kesayangan. Di tepi jalan, aku menunggu bus ekonomi antar kota.

“Secang, Magelang, Jogja! Mba, Jogja?” Bus itu datang, kondekturnya menawarkan. Aku mengangguk lalu naik.

Bus kembali melaju. Kondektur mendekat ke arahku. Aku menyerahkan uang pas lima belas ribu. “Turun Secang, Pak.” Pesanku.

Uang diterima, dihitungnya berkali-kali. “Mba, lima ribu lagi.” Pintanya. Ia mendapati aku tengah mengernyitkan dahi. “Lebaran naik, mba.”

Aku kembali merogoh saku celana. Lima ribu pas aku berikan.

***

Pukul tiga sore, aku turun dari bus. Baru sepertiga perjalanan agar aku sampai ke tujuan. Masih ada dua bus lagi untuk aku naiki.

“Parakan, Temanggung, Wonosobo!” Teriakan kondektur kembali terdengar.

Aku kembali terpikat. Meski rupa bus seadanya, namun keamanan dan kecepatan berani untuk aku beli.

Bus melesat. Kondektur mendekat. “Wonosobo, Pak.” Aku memberikan uang dua puluh ribu rupiah. Was-was akan di tarik uang kurangan. Ia berbalik ke arah pintu. Aku lega.

Lebih lega karena aku dapat tidur seenaknya tanpa khawatir turun di alamat yang tidak diinginkan. Bus ini akan berhenti pada pemberhentian terakhir di Terminal Mendolo Wonosobo. Aku akan turun di sana.

Seorang ibu duduk di sebelahku. “Dari mana, Mba?”

“Semarang, Bu.” Aku mengecilkan suara musik dari ponsel yang terpasang dengan headset di telingaku.

“Mudik? Rumahnya mana?”

“Iya mudik, Bu. Rumah saya di Banjarnegara, tapi saya sengaja naik bus yang tidak langsung.”

“Bukannya jadi tambah capek, Mba? Ini lagi, ditambah puasa. Nanti waktu buka puasa bagaimana?”

“Sambil ngabuburit, Bu.” Aku menyeringai asal jawab. Sebenarnya aku ingin menikmati perjalanan, namun urung aku jelaskan karena ibu ini tak perlu tahu dan mungkin bila aku jelaskan tak sanggup mengerti. “Saya sudah bawa bekal buka puasa, Bu.” Meski itu hanya air putih dan sepotong roti sobek. Ibu itu mengangguk seolah paham. “Ibu turun di mana?”

“Sebentar lagi sampai. Hati-hati di jalan ya, Mba. Perempuan sendirian kok berani.” Ibu itu berdiri. “Duluan ya, Mba.” Aku mengangguk serta melemparkan senyum yang tertutup masker.

Bus berjalan terus menjauhi arah matahari. Tiba di sebuah keramaian dekat pusat perbelanjaan dan jajanan. Macet. Realita jalanan pada musim mudik Ramadhan. Sedikitpun aku tak merasa kesal. Aku suka berlama-lama dalam perjalanan pulang. Berharap dapat melihat sun set di antara Sindoro Sumbing nanti. Kalaupun terlambat, aku masih ada kesempatan melihat bulan purnama di sana.

Aku di tepi jendela kaca melihat sekeliling, berupaya memahami apa yang tengah dialami oleh jalan ini. Aku turut menjadi saksi bahwa jalan ini ramah. Sekali dua kali aku mendapati ketidaknyamanan. Namum, aku melupakannya sebab ingat kenyataan bahwa kehidupan di jalan itu sangat keras. Memang sangat keras untuk orang-orang yang berjalan tanpa tujuan, tak punya tempat untuk pulang seolah rumahnya adalah jalan itu sendiri.

Dari jalan, aku belajar bahwa semua kisah peradaban dialami oleh jalanan. Setiap sisi tepi jalan selalu nampak sama. Tetapi tidak dengan kisahnya. Setiap centimeter jarak sudah menceritakan alur yang berbeda. Dengan pemeran paling banyak, putaran waktu terus meroda mengiringi cerita yang memuat pelajaran akan makna kehidupan. Banyak yang tidak bisa dilewatkan meski itu hal yang paling tidak diinginkan. Doa, adalah bekal paling mujarab untuk mendapat skenario perjalanan yang aman.

Perjalanan Pulang Perjalanan Pulang Reviewed by The Kopikim Post on 4/22/2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.