Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KKN (Bagian Akhir): Satu Hari

By Ade Tri Widyanti

Gambar Ilustrasi

Jalan desa sudah lengang dari hari kemarin. Kabar darah yang menetes sepanjang jalan telah didengar semuanya. Sejak itu, warga lebih memilih tinggal di rumah. Warga mempercayai ketika darah ayam cemani disebarkan pada titik tertentu maka sebenarnya ada orang lain yang akan dijadikan tumbal.

Bukan hanya kami yang pernah mendapat tamu tak diundang, rumah warga jauh lebih sering dihantui. Lampu rumah dipadamkan lebih awal, atau mereka akan datang memaksa untuk dibukakan pintu. Selepas Sholat Isya, desa ini seakan mati.

Kebakaran lahan sawah kala itu baru sekedar pemanasan. Dengar-dengar, pemilik enggan mengakui siapa yang akan dipilihnya. Nomor satu atau nomor dua. Botoh[1] dari salah satu pihak mengancam untuk membakar sawahnya. Itu bukan lagi ancaman melainkan paksaan.

Kata warga, besok adalah harinya. Penentuan siapa yang akan menduduki kursi jabatan paling agung di desa.

Malam ini, posko sengaja hening sejak awal langit berubah warna menjadi kelabu. Kami melakukan komunikasi melalui pesan singkat. Semua lampu dimatikan. Seperti kunang-kunang, titik cahaya kami hanya dari ponsel yang menyoroti pemiliknya.

Beruntung, kami tak tinggal sendirian. Pria bersepatu boots dan istrinya membersamai kami. Menjaga kami. Mereka tidak ingin Botoh-botoh itu menyakiti kami yang tidak mengetahui apapun. Menurut mereka, anak KKN bisa saja dijadikan bahan pertimbangan bagi warga yang hendak mengikuti pemilihan. Kami memiliki potensi menggiring suara. Tentu, ini tidak sehat. Yang dikhawatirkan adalah tindakan kekerasan yang bisa saja mereka lakukan. Pria bersepatu boots telah menyampaikan pesan singkat padaku sejak awal, tapi beliau memilih orang yang payah. Akhirnya, beliau menyampaikan pesan pada Yoga. Yoga mengenalinya sebagai Pak Manten[2] dari masa jabatan era sembilan puluhan. Juga sesepuh desa yang dihormati warga.

Malam belum genap separuh, suara dari luar yang mengusik keheningan telah kami dengar berulang-ulang. Dari langkah kaki, tawa keras tanpa sebab, hingga batang bambu yang dipukul-pukulkan pada benda keras lain yang dijumpainya. Sesekali kami mendengar suara kerikil yang jatuh menimpa atap. Delapan orang perempuan saling berpelukan menahan teriakan yang bisa saja keluar dari mulut sebab takut. Pak Manten juga melarang kami untuk tidur.

Bu Manten menyalakan dlepok si penerang yang terbuat dari pilinan kapas yang diletakan dalam wadah kecil berisi jelantah minyak goreng. Aroma asapnya beradu dengan wangi kemenyan yang dibakar entah dari mana asalnya.

“Sambil dimakan gorengannya, jangan biarkan perut kosong nanti masuk angin.” Bu Manten menunjuk makanan yang beliau bawa dari rumah. Kami hanya menjawabnya dengan anggukan disertai senyum.

“Kalian mau lihat ndaru?” Tanya Pak Manten.

“Apa itu, Pak?” Yoga berbalik tanya.

“Sejak dulu, warga percaya ketika ada cahaya seperti bola api terbang dari arah langit menuju ke arah tertentu, maka calon kepala desa yang rumahnya ada di arah tersebut itu yang bakal terpilih.”

“Bintang jatuh, Pak?” Tanyaku.

“Bukan. Beda. Cahayanya besar. Orang tua dulu bilangnya ini perwujudan wahyu dari Tuhan yang mengutus pilihan-Nya untuk dijadikan pemimpin. Nanti malam kita tunggu di belakang rumah jam satu sampai jam tiga.”

Mendengar nama ndaru saja sudah membuatku tak berselera jalan ke kamar sendirian. Apalagi jika menunggu di luar pada jam-jam yang telah ditentukan. Aku menjawab dengan gelengan.

“Besok akan menjadi satu hari yang panjang. Kalian ikut ke rumah saja, ya. Supaya lebih aman dan kalian tidak kelaparan.” Bu Manten mengajak kami.

“Ibu punya putera yang belum menikah dan sudah mapan? Kalau itu, saya besok mau ikut ibu.” Meva menutup wajahnya dengan selimut. Ia nampak serius dibalik cekikikannya yang malu-malu. Kami semua mengutuk Meva. Memalukan.

“Sudah, Bu. Jangan jawab Meva memang suka menawarkan diri jadi produk menantu idaman.” Trian menimpali.

Bapak dan ibu menahan tawa. Sesaat, semua terdiam ketika terdengar seseorang dari luar meniru lekikan tawa kami. Aku dan ketujuh temanku kembali berpelukan.


Keterangan
[1] Orang yang menjadi relawan dan pendukung kandidat calon kepala desa.
[2] Orang yang pernah menjadi pemimpin pemerintahan di desa.

Posting Komentar untuk "KKN (Bagian Akhir): Satu Hari"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp 25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang