Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pencurian Senja: TKC #3

pencurian-senja

Pencurian Senja

Ruang Sidang

Di Pengadilan Negeri Senja
Aku dipanggil sebagai saksi

Seorang Hakim
Tepat di hadapanku mulai bertanya
“Pada kesempatan ini
Anda bersaksi sebagai Konsultan Puisi
Bagaimanakah menurut saudara
Terkait pencurian senja?
Yang dilakukan oleh seseorang
Untuk diberikan pada kekasihnya?"

Aku terdiam
Ketika orang-orang di belakangku
Semakin ribut dengan pendapatnya masing-masing

Cahaya kamera
Bertubi-tubi
Membekas
Di kening dan mata
Para Hakim di depanku
Kamera para wartawan dari penjuru dunia
Hendak menuliskan pendapatku

Tubuhku gemetar
Apa yang hendak aku sampaikan
Sampai kuberanikan mulut ini mulai berucap
“Yang mulia Hakim
Senja itu soal rasa dan penghayatan
Senja hanya satu
Tapi ia banyak disalin
Menjadi perhiasan, kado, atau apapun
Senja memang sabar dan tabah
Bahkan ia tak pernah menyalahkan
Apapun perbuatan orang pada dirinya
Senja hanya dapat diambil secara utuh
Oleh seseorang yang memiliki ketulusan
Jadi, pantaskah, kita menyalahkan ketulusan seseorang?”

Di belakangku
Orang-orang semakin ribut
Seolah senja hanya milik mereka
Padahal, senja hanya mereka potret
Tanpa mau menikmati senja dengan sesungguhnya
Lalu senja dilupakan
Ketika senja menjadi kenangan menyakitkan
Saat ada perpisahan
Pada waktu senja

Di samping kananku
Seseorang yang mencuri senja
Mulai tersenyum
Bahkan tepat
Pada sepasang mataku

Padahal
Sebulan yang lalu
Aku dan pencuri senja itu memiliki kisah
Kami sepakat untuk saling menjauh
Tepat di waktu senja
Ketika aku tahu
Bahwa Ibunya
Telah melekatkan kasih selainku
Di kehidupan dan hatinya

Ia ucapkan maaf berulangkali
Sampai ia curi senja yang kukagumi
Hanya untuk dikemas
Sebagai permintaan maafnya
Untukku

Di bangku saksi sidang
Aku menunduk
Bukan untuk menatap lantai semesta
Melainkan untuk memejamkan mata
Berharap
Bahwa
Ini
Hanyalah
Mimpi belaka

Majalengka, 2021


Daun Senja Jatuh

Daun senja jatuh pada tanah gersang
Petani senja mengumpulkannya satu per satu
Dibawanya pada tungku di dalam dapur
Dimasukannya kayu-kayu matang pada tungku itu

Kata Eka Kurniawan
"Seperti Dendam, Rindu Harus dibayar Tuntas."

Namun
Petani Senja memilih
Untuk membakar segala rindu
Yang hilang ketika waktu senja tiba

Ucapnya, "Musnah dan hilanglah,
Aku sudah tak mempercayai rindu
Yang dulu tumbuh subur."

Biarkan
Daun senja menjadi abu
Dan terbawa desir angin
Menjauh dari hidupku

Semarang, 2018


Aku Ingin

Aku ingin menjadi puisi
Atas dasar namamu

Aku suka secangkir kopi
Yang menemukan kisahmu

Pekerjaanku menyajikan kata
Sesudahnya, sedang aktif jatuh cinta

Makan malamku bersama rindu
Tempatku pulang, ialah namamu

Semarang, 2021


Si Manis Berambut Pendek

Wajahnya bertatar keindahan

Kacamata berbingkai hitam, tubuhnya sejajar denganku, dan beraroma senyum manis tipis

Beberapa kali kuusap sudut mataku, bukan karena kantuk. Melainkan wajahnya yang tepat di hadapanku, dan menggangu isi hati

Terlihat keindahan kuning langsat, dengan rambut pendek yang sesekali terombak desir angin menjelang fajar. Ia mengobrak-abrik puisi di kepalaku. Bukan, bukan cuma kepala, tapi hati dan sukma terdalam

Sekalipun mentari belum terbit, bait-bait ini ingin lebih dulu terbit, dan segera menulis surat cinta

Padanya yang diciptakan dengan kasih sayang

Semarang, 2021


Pilihan

Kalau lautan menakutkan. Masih ada ombak kecil dan mungil yang mampu memikat hati. Ya, aku punya pilihan dalam mengagumi. Yang datang dari ketulusan rasa, dan hadir tanpa siapapun paksa. Kalau aku mencintaimu, bukan berarti aku akan selamanya setuju denganmu

Semarang, 2019


Puasa Puisi

Di bulan puasa
Aku sahur dengan semangkuk bait
Lengkap dengan segelas rasa
Begitupun dengan niat tulusnya merindukan

Di bulan puasa sebelum senja
Aku ngabuburit bersepeda
Melihat canda dan tawa manusia
Di sepanjang jalan kampungku

Di bulan puasa
Aku berbuka dengan semangkuk puisi
Lengkap dengan segelas kerinduan
Kenyang dengan segala bait tentangmu

Semarang, 2019


Rembulan

Rembulan tanpa batas
Malam berkunang-kunang
Rindu tanpa tuntas
Tenggelam hanyut kenangan

Rasa berasa merasa
Puisi berpuisi kunikmati
Diam meredam menyelam
Rindu menggebu berseru

Semarang, 2019


Posting Komentar untuk "Pencurian Senja: TKC #3"