Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Raji dan Cerita Awal

Foto Raji, Amal, dan Abdul

Mungkin ini pertama kalinya saya menceritakan seseorang, selain sosok ibu atau perempuan yang menjadi dambaan hati.

Sosok yang ini seorang lelaki. Yang bukan fiksi, hidup, dan bersahabat. Seseorang yang tahun demi tahun bertumbuh. Baik dari cara bercerita, sampai soal perbincangan karya.

Saya mengenalnya pada semester awal kuliah. Hal terlama yang saya ingat, ialah ketika kami bertemu pada satu sesi seminar di fakultas teknik. Sebuah sesi yang sengaja saya ikuti untuk menghadapi kebosanan kala itu.

Namanya Raji. Beberapa waktu lalu kami bertemu, lalu tiba-tiba kami mengenang bagaimana awal saling mengenal. Saya mendengar baik-baik caranya mengenang perkenalan itu.

Sampai tulisan ini hadir, dari sisi saya yang mengenang perkenalan. Selain tubuhnya yang tinggi besar dan bertolak belakang dengan saya yang kurus ini. Hal yang membuat saya terpikat untuk lebih mengenal, ialah saat tiba-tiba ada perbincangan untuk berkarya. Khususnya dalam mengikuti perlombaan yang kami rencanakan sejak semester awal.

Ia sosok pertama yang mau membicarakan karya. Pembicaraan yang sudah lama mengendap di kepala saya. Tapi, saya tak punya teman yang punya ketertarikan sama. Sampai ia hadir, lalu pembicaraan karya pun dimulai dengan rencana perlombaan.

Rencana untuk mengikuti lomba, khususnya dalam bidang kepenulisan, lama-lama menjadi pembicaraan utama kami. Baik untuk lomba menulis novel, atau karya tulis ilmiah.

Pada awalnya kami gagal, misal saat ingin mengikuti lomba tulis novel. Hanya hadir ide di kepala, tanpa pernah selesai tertulis. Sampai akhirnya, kami yang gagal menulis novel, bersepakat untuk menggantinya dengan donasi buku.

Tapi, saya lupa satu hal, tentang awal kami membicarakan buku. Yang sampai saat ini, pembicaraan buku dan karya sastra selalu menjadi obrolan utama saat bertemu.

Awalnya, saya tak melihat soal kesukaannya terhadap buku. Namun, sebagai aliran yang terus mengalir, obrolan sastra yang dibicarakannya makin mendalam. Bahkan, kali ini, ia lebih banyak tahu soal sastra ketimbang saya.

Dengan tubuh besarnya yang serasi dengan vario dan helm lorek hitam putih. Saya pun sering diajaknya berbincang di atas motor. Sering tanpa tujuan, tapi terkadang, pembicaraan di atas motor cukup menarik bagi saya.

Saya sering diajaknya berkendara, terkadang hanya memutar, bila obrolan belum habis, kami terus berkendara. Sampai kami pernah menyusuri perjalanan untuk secangkir kopi. Ke Posong Temanggung. Dengan peristiwa menepi di salah satu kafe tengah hutan, lalu kami tiba di Posong, tempat Ben dan Jody syuting film pendek. Sampai-sampai, saya berujar, "Jangan-jangan, kita adalah Ben dan Jody di dunia nyata?"

Bagaimanapun, selain buku, obrolan soal kopi cukup banyak menyita waktu kami. Banyak kafe yang kami datangi. Banyak angkringan yang kami kenangkan.

Ibarat ide di kepala, ia banyak hadir, tapi terkadang tak cukup beberapa lembar untuk menuliskannya. Seolah masih banyak hal yang perlu saya tuliskan tentangnya.

Misal, bagaimana tiba-tiba dia berbicara soal dambaan hatinya. Yang awalnya tersembunyi, tapi terbuka juga kemudian. Saya tak tahu, apa sebenarnya ia tahu, siapa sosok Sekar Rembulan yang menjadi dambaan hati saya. Perihal asmara, dulu juga pernah kami obrolkan.

Selain itu, dia yang saat ini, bukunya lebih banyak ketimbang milik saya. Buku dan tokoh sastra yang dibicarakannya juga lebih luas. Saya pun belajar banyak darinya perihal sastra baru. Khususnya perbincangan sastra facebook yang beberapa kali penuh perdebatan di antara tokoh-tokohnya.

Dari caranya menulis, jangan salah, lihat saja di blognya PAPERAJI. Tulisannya makin mantap. Beberapa media pun sudah menerbitkan tulisannya. Yang bahkan, saya belum pernah.

Salah satu pengalaman yang menyenangkan. Adalah saat kami bisa terbang ke Kota Padang, Sumatera Barat. Dapat juara tiga LKTI nasional. Lengkap dengan pengalaman saya kehilangan jaket di Bandara Adisutjipto Yogyakarta, atau pembicaraan soal bintang di laut, sewaktu kami berada di pesawat malam.

Entah sudah berapa kata yang saya tuliskan ini. Masih banyak yang tersimpan di kepala saya tentangnya. Saya tidak bermaksud menjadi Dr. John H. Watson yang menulis tentang sahabatnya, Sherlock Holmes. Namun, kalau ternyata Raji tetap menulis, dan didapatnya nobel sastra pada suatu hari. Tulisan ini, mungkin bisa jadi salah satu catatan bersejarah, dari seorang sahabatnya. Semoga dia rela mengakui saya sebagai sahabatnya.

Semarang, 18 April 2021

Posting Komentar untuk "Raji dan Cerita Awal"