Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rumah Bertumbuh

Potret Rumah

Bertahun-tahun yang lalu, seorang anak kecil tumbuh dari rumah ini. Tumis leunca makanan kesukaannya. Matematika jatuh hati pertamanya. Dengan ayam berkokok setiap pagi, dan ngeongan kucing kesayangan kakek selalu menemani.

Di bawah pohon mangga yang kini sudah tak ada. Kakek membuatkan wayang dari kardus untuknya. Bentuknya apik, hidungnya panjang, dan matanya tajam. Tangannya bisa digerakkan naik-turun. Dulu ia tak tahu, tokoh wayang siapa yang digambar kakeknya. Kini, ia mengira-ngira, mungkin saja petruk atau gareng. Sebab sang kakek, membuat banyak wayang, dari kardus-kardus sisa rumahnya.

Bacaan pertama yang ia suka adalah karya Tatang S. Bila ada uang, ia pasti membeli komik itu. Karakter Petruk dan Gareng selalu ia ingat kala itu. Ia seolah dapat masuk ke dalam komik itu, merasa ketakutan, ketika perempuan yang ditemui petruk ternyata hantu.

Baginya, kakek adalah seniman serba bisa, ia percaya hal itu. Selain wayang, kakek pandai membuat mobil-mobilan dari kayu. Bila rusak, bapak ikut membantu mendandani. Ada juga bandering atau ketapel yang sering dibuat kakek. Atau tembakan kayu dengan peluru karet atau besi untuk menangkap cicak dan tikus. Dari rumah inilah, ia mengenal banyak karya seni dari bahan yang hadir di sekitar rumah.

Anak kecil yang kini sudah bertumbuh itu. Mengingat banyak kejadian di rumah ini. Bahkan, tiba-tiba tersenyum sendiri. Ada yang suka, ada pun duka.

Ia ingat suatu subuh, hendak membuka hordeng ruang tamu. Di sudut luar rumah, ada cahaya turun dari langit. Dengan seksama, matanya menangkap "Panji Manusia Millenium" sedang berkelahi, tepat di depan rumahnya. Kemudian ia berlari ke dapur, tempat neneknya memasak. Ia bilang, "Ada Panji di depan rumah". Nenek hanya tertawa. Dilihat nenek, tak ada apa-apa di luar rumahnya. Anak kecil itu sangat yakin pada yang dilihatnya, lalu ia mulai berpikir aneh, mungkin itu yang dinamakan hantu.

Di bagian belakang rumah ini, anak kecil itu pernah sangat takut pergi ke belakang. Saat ular putih nan panjang dilihatnya. Ketika itu tak ada yang percaya, bahkan ketika dibongkar seluruh bagian belakang oleh kakek. Memang tak ada apa-apa. Sekalipun ia yakin, bahwa seekor ular, telah masuk ke dalam kayu-kayu bakar guna pasokan tungku.

Pernah juga, ia ikut mengubur kucing kesayangan kakek. Kucing yang selalu mengenal jalan pulang ke rumah ini. Tak terhitung, berapa banyak kucing yang pernah dimiliki kakek. Kucing yang asyik diajak bercanda, bicara, dan bermain.

Kenangan itu selalu muncul di kepala anak kecil itu. Satu-satunya cara yang ia bisa lakukan untuk melegakan kenangan, hanyalah dengan menulis. Sebagaimana yang Anda baca saat ini.

Majalengka, 18/05/21.

Posting Komentar untuk "Rumah Bertumbuh"