Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bapak Penggali: TKC #1

TKC 1

BAPAK PENGGALI

Buat bayar hutang
Bapak menggali lubang
Peluh pasti terus mengalir
Otot lengan terus mengembang

Lubang tergali, biasanya sebulan sekali
Bahkan tak pasti, kapan perlu menggali
Aneh sekali pada tahun ini
Hutang bapak lunas dalam beberapa hari

Sebab bapak terus menggali
Bahkan setiap hari dipanggil sana-sini
Kudengar kabar, bapak hendak ke luar kota
Diminta langsung walikota

Tak ada yang berani menggali lubang
Seberani dan sekuat bapakku
Lubang-lubang tempat manusia
Yang selesai masa hidupnya

Semarang, 2021


SI JUBAH

Seorang jangkung berjubah putih
Hilir mudik di depan rumah
Kutanya siapa pada simbah
Tak dijawab apa tanyaku
Selain senyum mungil penuh rahasia

Si jubah putih terkadang menembus tanah
Terbang ke langit, hilang di dinding
Melewat pasti di jalan raya, tanpa terluka
Bila kusapa, ia pergi
Bila kukejar, ia menghilang

Sewaktu cakrawala terlukis di sudut barat
Simbah masuk kamar terlunta-lunta
Si jubah putih mengikuti simbah
Langkah kakiku tegap menuju padanya
Isi rasaku bergontai penuh tanya

Di rongga pintu terbuka kamar simbah
Simbah ngopi bareng dengan si jubah
Kumasuki kamar, si jubah entah kemana
Kutanya siapa nama si jubah pada simbah
Simbah tersenyum, tanpa kata, tanpa napas

Semarang, 2021


KEMARIN

Ketukan pintu berulang
Ibu tersentak kala butir beras merekah
Terseret aku oleh jemarinya
Kamar pengap terbuka
Bahu cungkring belulangku ditepuknya

"Duduklah, Nak. Ibu ke depan sebentar"
Getir ucap meninggalkanku
Di kamar dengan pintu jarit lusuh
Lengkap hujan menyusupi rongga atap
Jatuh tertadah ember pecah belah

Suara ibu berdialog gelisah
Bukan lagi ketukan pintu benderang
Berisik di telinga gebrakan meja
Kupeluk dada sendiri dan ibu datang lagi
Kutanya ibu kala hujan menyusupi sudut matanya

"Kenapa, Bu?" Tanyaku
"Bapak menjenguk kita" Ibu terbata
"Kapan? Tak kudengar suara bapak,
sejak lima tahun ini," Ucapku

"Baru saja, bapak menitipkan pesan,
tentang kemiskinan yang akan datang,
lewat orang-orang yang ibu temui tadi,"
Ibu menepuk bahuku lagi

Direkatnya jemariku olehnya
Menemui butir beras yang merekah
Tungku benderang, kayu mekar terbakar
Di tepat mata ibu, danau kecil tergenang
Di tepat kepala ibu, tersulut sumbu bara

Semarang, 2021


MENCARI ALAMAT

Pada setiap orang yang kutemui
Kutanya sebuah alamat
Mereka selalu kehilangan jawaban
Terkadang, kudengar bisikan mereka
Yang menyebutku gila dan hilang arah

Selembar kertas masih kugenggam
Tertulis sebuah alamat pasti
Kudapat alamat itu dari mimpi
Alamat seorang ibu yang meninggalkanku

Kini ibu tinggal di perumahan bukit damai,
Di dekat area peristirahatan pahlawan,
Jalan kenangan, Kampung Surga
Begitulah kata ibu yang kuingat
Kutulis sewaktu bangun,
Dan kucari sejak sepuluh tahun lalu

Di sepanjang jalan
Aku terus berdoa
Agar segera bertemu ibu
Sekalipun belum mandi
Sejak sepuluh tahun ini

Semarang, 2021


PAKETAN MERTUA

Bapak marah pada segala arah
Mantu hilang tanpa kenangan
Meninggalkan anaknya lengkap kecewa
Meninggalkan benci dalam rasanya

Bapak membuang ludah cuma-cuma
Asap tak putus dari mulutnya
Hempas hembus puntung berserak
Dilihatnya lembab sudut mata anaknya

Bapak memanggil malaikat
Berdialog, berdebat, berdoa
Mengirim surat pada mantunya
Lewat paket kilat yang kemilau

Tukang pos malaikat menemui si mantu
Yang duduk manis memangku kekasihnya
Sepucuk surat mertua dibukanya perlahan
Selengkap rasanya berhamburan percuma

Kata-kata meletuskan balon kepalanya dor-dor
Darah bergejolak diobok-obok
Hati yang dicinta, dulu pujaan hatinya
Istri yang ditinggalkan, baru saja
Meninggalkan dunia

Semarang, 2021


LUKISAN BACA

Huruf membawaku berkata
Lalu menuntunku berkalimat
Sampai di paragraf
Aku diantarkannya berkisah
Dan di puncak
Ia mengabadikanku
Dalam lukisan baca

Semarang, 2018


NAMAKU KATA

Namaku kata
Rumahku bumi puisi
Dari alun-alun kota kata
Kau bisa ambil ke arah selatan
Melewati jembatan rindu
Dan berbelok pada jalan kisah

Rumahku arsitektur pena
Warnanya warni kehangatan
Bila kau tetap mencari rumahku
Cari nama ibu atau ayahku
Atau ikuti tanda baca yang kau temui sepanjang jalan

Ibuku bernama ide
Ayahku tuan tinta
Adikku kertas
Dan aku adalah segala puisi yang menemani langkahmu

Lihatlah
Rumah pondasi huruf beribu
Dengan diksi menghiasi tembok-temboknya
Itulah rumahku

Rumah puisi masa kini

Klaten, 2018


Posting Komentar untuk "Bapak Penggali: TKC #1"