Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sinarjati: TKC #2

Potret Sawah di Desa Sinarjati

SINARJATI

Rindu. Merindu. Tak ada duanya.
Hangat angin seperti apa?
Yang selayaknya Desa Sinarjati beri
Yang kunang-kunangnya asyik berlarian

Lihatlah! Lapang dada sawah memanjang
Jernih gemas sungai mengalir
Seumpama pacar pertama sering teringat
Bak lagu favorit mesra terdendang

Kampung asal. Halaman kerinduan
Lengkap bahasa menyebutnya penuh arti
Jalan lepas dan bebatuan dikenang
Alamat pulang tempat hati memanja

Majalengka, 2021


PISANG

Pisang terkupas hati-hati
Jantungnya tak berdebar
Sekalipun disantap penuh lezat

Puluhan pohonnya hadir di kebun bapak
Subur tanahnya, rekah buahnya
Manis manja senyum para penikmatnya

Pisang yang tabah. Luas hatinya.
Direlakan tubuhnya menjelma apa saja
Pandai ibu, kripik kriuk pisang dibuatnya

Majalengka, 2021


LAPANG MESRA

Bola melesat ke langit
Rumput bersiap menangkapnya
Cepat dan tepat kaki mereka beradu
Saling mengumpan, mengundang keasyikan

Berpasang bola mata tajam menuju
Pada bola yang saling terhempas
Berebut tanpa benci dan caci
Seolah jatuh hati, berebut cinta yang sama

Cakrawala kemerahan terlukis di sudut barat
Ciremai nan gagah, berdiri di sisi tenggara
Sorak sorai warga kampung di kelilingnya
Hangat mesra: memori berkasih masa kecil

Majalengka, 2021


SEBELUM CAHAYA

Sebelum cahaya
Cangkul abah diasah
Diajaknya berbicara
Agar tiba masa panen

Abah mengayuh sepeda
Saat sarapan selesai dibuat emak
Cangkul kesayangan dibawa abah
Lengkap doa penuh tengadah sebelumnya

Sapa hadir di mana-mana
Ketika abah mengayuh di sepanjang jalan
Burung-burung pun bersahutan
Irama pagi berpentas ria

Abah menyusuri tanggul
Tempat cucunya jatuh ke tepat lumpur
Hujan kemarin menabur pupuk bahagia
Sebagaimana senyum abah dan cangkulnya

Majalengka, 2021


JALAN KAMPUNG

Selepas pulang dari huma dan sawahnya
Pada tepian jalan kampung halaman
Anak muda segera mengambil gitar
Dinyanyikannya beragam rasa
Tak peduli berat ringan suaranya

Menjelang senja yang dinanti penyair
Ketika burung dara kembali pada sangkar
Dan jagung tertabur di sekitarnya
Nyanyian anak muda masih menyapa
Apa kau dengar? Irama kerinduan itu?

Majalengka, 2021


KITA

Kisah kasih bunga jelita
Datang tiba-tiba, tanpa suara
Pulang seketika, penuh tanya
Kepala puyeng, merindukannya

Dua bunga mawar, sebuah umpama
Satunya diriku, lainnya dirinya
Batangnya boleh berduri hendak meluka
Makin kenal, makin penuh makna

Ketika tahun itu: aku terlahir
Dua tahun kemudian
Seorang ibu mengandungnya
Boleh juga tuhan membuat kado
Hadiah cinta-Nya lewat cintanya

Kalau takdir sudah berkata
Tersurat namamu, menyeret hatiku
Maka nikmatilah, penuhnya rasa rindu

Fajar bunga tawa
Terik bunga canda
Senja penuh cinta
Rembulan lengkaplah kita

Dari timur sampai ke barat
Dari namamu: sajak-sajak kasih amat erat
Dari palung sampai langitnya
Dari takdir yang sepenuhnya mesra

Kalau kautolak takdir punya rencana
Bagaimana mungkin, kaupalingkan bahagia
Kalau kau pergi dari manisnya cerita
Bagaimana mungkin, nikmat kita dustakan

Kunang-kunang gemerlap di pelataran desa
Lampu-lampu benderang di tengah kota
Gemerlap dan benderang, menunjukkan jalan
Bahwa kisah kasih mesra: sepenuhnya kita

Majalengka, 2021


CERITA IBU

AKU BERTANYA:
Ke mana bapak?
Ini tahun ke lima, sejak bapak
Pamit mancing ke kali
Tanpa sekalipun pulang
Dan ibu pasti bilang,
Paling nanti dan nanti

IBU BERCERITA:
Bapak mancing di seribu sungai
Buat ikan besar dan ratusan kilo
Buat sekolahmu, buat layak hidup kita
Buat masa depan, yang hadir di kail bapak

IBU MASIH BERCERITA:
Bapak nitip pesan
Kemiskinan mungkin masih datang
Tapi, tunggulah bapak
Dengan kail masa depannya
Harta hendak berlimpah
Makan tercukupi, rumah mewah,
Sekolahmu tinggi sampai ke langit

IBU MENYELESAIKAN CERITA:
Kamu
Tak perlu khawatir soal bapak
Bapak pasti pulang
Bahkan mungkin sudah pulang
Penuh kedamaian
Kembali muda
Pada suatu tempat
Jauh dari dimensi kita

Majalengka, 2021


2 komentar untuk "Sinarjati: TKC #2"

  1. Saya suka puisi JALAN KAMPUNG. Diksinya cukup sederhana, enak dibaca, juga tak kehilangan makna.

    BalasHapus