Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tirto Adhi Soerjo: Hidup dan Mati Sang Pemula dalam Empat Babak

By M. Najmul Ula

gambar-pendukung

Tirto Adhi Soerjo bisa jadi adalah manusia terbesar di bumi Hindia dalam kurun 1906-1912. Namun ia dilupakan pada tahun-tahun setelah itu hingga meninggalnya pada 1918. Ia juga telah mendapat gelar “Perintis Pers” sejak 1973, tetapi baru mendapat gelar pahlawan nasional pada 2006. Juga ia baru tenar kembali setelah muncul media bernama Tirto.id dan film Bumi Manusia dirilis pada 2019.

Beruntunglah kita dapat membaca karya besar Pramoedya Ananta Toer, Tetralogi Pulau Buru. Saya membaca buku pertama, Bumi Manusia, semasa KKN di Wonosobo, Agustus 2018 silam. Lalu tahun ini saya berniat menuntaskan empat buku itu, dengan membaca pdf buku pertama dan membeli tiga buku terakhir: Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Dalam beberapa pekan membaca Tetralogi, saya paham lebih banyak tentang embrio nasionalisme Indonesia ketimbang selama 12 tahun mengenyam sekolah. Kebiasaan saya dalam membaca novel adalah dengan turut browsing segala hal yang berkonteks dengan latar cerita. Dalam hal Tetralogi, saya mencari tahu tentang Tirto Adhi Soerjo, Medan Prijaji, Boedi Oetomo, hingga kata kunci terakhir yang saya cari adalah “Gunawan Sjarekat Islam”.

Video: Najmul Ula membicarakan Tirto Adhi Soerjo yang dapat disaksikan melalui kanal youtube Najmul Ula Play

Tulisan ini sangat lemah karena Tetralogi adalah buku post-kolonial pertama yang saya baca. Biarpun begitu, saya akan mencoba menerangkan mengapa Tirto Adhi Soerjo adalah “kaisar” di bumi Hindia dalam kurun waktu tertentu, juga mengapa ia seakan lenyap pada kurun waktu berikutnya. Semua itu akan saya bagi dalam empat babak.

Kejayaan
Pramoedya menghidupkan Tirto dengan karakter Minke di tetralogi. Dalam buku Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, Pramoedya mengisahkan pembentukan karakter Minke dari seorang lulusan HBS yang bertubi-tubi ditekan watak kolonialisme, berlanjut dengan masa kesadaran diri sebagai bagian dari pribumi hindia yang perlu bergerak melawan penjajah.

Pada 1903, dalam usia 23 tahun, Tirto sudah mendirikan pers pribumi pertama Soenda Berita, berkat sokongan donasi Bupati Cianjur. Dalam kurun waktu sesudahnya, Tirto banyak mempelajari perjuangan sesama bangsa terjajah seperti di Filipina, atau perjuangan menciptakan organisasi besar di kalangan muda seperti di China. Peran Dr Wahidin yang menguliahinya di Stovia juga cukup besar untuk membuat Tirto gerak cepat memprakarsai organisasi pribumi.

Pertama, Tirto mendirikan Sarekat Prijaji pada 1906, organisasi dengan semangat memajukan kehidupan pribumi, salah satunya dengan memberikan akses pendidikan. Sarekat Prijaji pun memiliki media, yaitu Medan Prijaji yang terbit sejak 1907. Tirto sang jurnalislah yang membesut Medan Prijaji.

Mulai tahap ini, Tirto bisa jadi merupakan pribumi paling berpengaruh di Hindia. Ia adalah pemilik media dengan oplah besar, dengan keberpihakan pada pribumi pula. Medan Prijaji memiliki beragam rubrik, termasuk yang membuatnya mendapat tempat di hati rakyat adalah rubrik surat-surat masuk dan bantuan hukum.

Di Jejak Langkah, rubrik bantuan hukum ini diasuh Tuan Hendrikk Frischbotten. Dua rubrik di atas sangat relate dengan kehidupan pribumi waktu itu yang menjadi korban penindasan kaum penjajah. Layaknya jurnalistik advokasi-investigasi era kini, Medan Prijaji banyak mengungkap skandal pejabat dan segala keburukan watak kolonial waktu itu. Medan Prijaji juga dapat maju berkat sistem “subscribe”, yaitu pembaca membayar di muka untuk dapat menikmati konten-konten berkualitas berbahasa melayu.

Tirto dan Medan Prijaji adalah gambaran kekuatan rakyat dan pers terhadap penguasa pada waktu itu.

Di luar itu, Tirto juga adalah sosok yang cemerlang dalam organisasi. Sarekat Prijaji tak berkembang karena para ‘prijaji’ yang menghamba kolonial dan munculnya kasus penilapan uang organisasi. Tirto kemudian membangun lagi sebuah organisasi pergerakan, dengan sedikit pergeseran ideologi, bernama Sjarekat Dagang Islamiyah. SDI ini lagi-lagi atas prakarsa Tirto dan Thamrin Mohamad Tabri.

Kali ini, dengan membawa bendera perdagangan, Tirto merangkul segmen pengusaha yang memang menjalankan hidup dari usaha sendiri. Organisasi ini kemudian membesar salah satunya berkat H Samanhudi asal Solo, seorang pengusaha batik sukses.

Meredup dan Meninggal
Bersama Medan Prijaji, Tirto memang hidup menyerempet bahaya. Laporan jurnalistik bermutu era sekarang pun tak lepas dari teror kan? Begitulah hidup Tirto. Di Jejak Langkah, karier jurnalistik Tirto tamat setelah Medan menerbitkan kritik atas kunjungan Gubernur Jenderal Idenburg untuk melayat Bupati Rembang.

Di dunia nyata, Medan Prijaji kembang kempis tak bisa hidup dari pelanggan yang tak lagi membayar, serta apa yang tampak sebagai boikot perusahaan percetakan Eropa. Medan Prijaji bangkrut, Tirto dibuang ke Maluku.

Selama enam tahun terakhir masa hidupnya, Tirto tak lagi bersenjatakan pena. Ia tidak pula dihormati dan tak diingat-ingat orang yang pernah dibesarkannya. Dalam masa pembuangan, ia memang tak diperkenankan berkirim surat. Ia boleh membaca majalah dan menerima pesan, tetapi tak boleh ada segores pena pun tertoreh dari dirinya.

Selepas kembali dari masa pengasingan pun, intelijen Hindia Belanda memastikan Tirto tak dapat menguasai harta bendanya dan tak dapat menemui temannya. Bahkan akses untuk dokter ketika ia sakit pun diblokir.

Pramoedya sedikit menyinggung kekurangajaran orang-orang yang pernah dekat dengan Tirto, mengapa mereka melupakan Tirto hanya beberapa tahun setelah ia berjuang di Medan Prijaji, Sarekat Prijaji, hingga SDI. Cukup ditiup isu bahwa Tirto sudah menjadi mata-mata kolonial, orang-orang SDI (kini SI) tak mau menghubunginya.

Hanya seorang Goenawan, sesama pejuang SDI dari Jakarta, yang “diperbolehkan” mengurus Tirto yang depresi dan sakit-sakitan. Babak akhir kehidupan Tirto ini diceritakan dengan haru oleh Pramoedya di bab terakhir Rumah Kaca. Di situ, Jacques Pangemanan menjadi aktor pembunuhan pelan-pelan atas Minke. Buku yang akan membuat kita membenci kolonialisme.

Hubungan Tirto dengan Haji Samanhudi juga retak, yang membuat SDI lepas dari genggaman Tirto. SDI kemudian diambil alih oleh Tjokroaminoto, yang mengganti namanya menjadi Sarekat Islam. Sejak saat itu, kaisar pribumi hindia kini disandang Tjokroaminoto.

Kematian Kedua
Bagian yang tidak banyak. Sebagai anak kandung Pramoedya, sosok Minke tak dapat tenar di era Orde Baru. Pramoedya kadung berada di sisi sejarah yang salah. Ia menggodok naskah tetralogi sejak menjadi dosen di awal 1960-an, hanya untuk dibuang ke pulau Buru oleh Orde Baru. Selama sepuluh tahun di pulau Buru, Pramoedya menuliskan dan menceritakan empat naskah yang kelak menjadi tetralogi. Teman-temannya sesama korban pembuangan menjadi pendengar pertama kisah itu.

Selepas bebas, ia segera mempublikasikan tetralogi dengan bendera Hasta Mitra. Hanya saja, Orde Baru tak akan pernah membiarkan Pramoedya bebas. Karya-karyanya dilarang beredar, sehingga kisah luar biasa seperti tetralogi dan Tirto: Sang Pemula tak bisa mendapat banyak apresiasi di era itu.

Orde Baru cuma mengakui Tirto sebagai “Bapak Pers Nasional” pada 1973.

Kelahiran Kembali
Orde Baru runtuh, Tirto seakan mendapat angin untuk hidup kembali. Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk Tirto pada 2006. Buku-buku Pramoedya yang tak lagi dibredel juga memperbanyak kawula muda Indonesia untuk membaca tetralogi dan mulai mengenali Minke dan Tirto.

Pada 2016, sebuah media berdiri dengan mengambil nama Tirto, yaitu Tirto.id dengan maskot Pak Tirto yang terilhami dari potret sang pemula. Selain itu, Falcon Pictures juga telah membeli hak sinema Bumi Manusia, dan jadilah Iqbaal Ramadan menghidupkan sosok Minke atau Tirto di layar lebar. Sosok Minke di versi film lebih banyak disorot kehidupan romansanya dengan Annelies Mellema. Padahal, Minke sedang memasuki babak awal terbentur dengan kuasa kolonial, sebelum terbentuk menjadi sosok berpengaruh di Hindia Belanda di atas.

Hal yang kurang dalam balas jasa Indonesia terhadap Tirto barangkali adalah penyebutan namanya yang lebih sering di buku pelajaran sekolah.(*)

Posting Komentar untuk "Tirto Adhi Soerjo: Hidup dan Mati Sang Pemula dalam Empat Babak"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp 25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang