Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jumpa di Perbatasan

By Ade Tri Widyanti

ilustrasi konten

Akhir pekan ini, matahari memaksakan dirinya untuk menyapa di tengah-tengah sisa hujan yang sebenarnya masih bergeming deras. Cahayanya mencetak bayangan yang tunduk ditempa guguran awan senja.

Di atas tanah merah basah, membawa segenggam harapan yang membendung rindu nan kian dipupuk bersama sendu.

Tepat hari itu, Safa mengantar Ibunya yang akan melahirkan adik pertamanya ke rumah sakit. Rumahnya jauh dari akses kendaraan umum, tak ada tetangga yang memiliki mobil. Jangankan sebuah mobil, sepeda motor di sana masih menjadi barang mewah.

Safa tak punya kendaraan cepat selain becak tua peninggalan almarhum ayahnya. Tak ada pilihan lain selain menggunakan becak untuk menyelamatkan Ibu dan adik yang akan segera menyapa dunia.

Safa menaikkan Ibunya ke atas becak.

"Mau kemana, Fa?" Tanya Ibu disela-sela nafasnya yang tak lagi berirama.

"Ibu duduk saja, Safa antar Ibu ke rumah sakit segera. Ibu dan adik harus selamat." Safa mulai mengayuh becaknya. Bersama harapan, Safa terus menyisir likuan jalur panjang dari perjalanan yang harus segera ia lewati.

Susah payah ketika melalui tanjakan, Safa harus turun lalu mendorong sekuat rasa percaya yang tertanam dalam dirinya.

'Safa! Safa! Safa!....' riuh sokongan semangat di tengah arena lomba renang terus bergentayangan di otak dan telinga Safa.

Ibunya merintih semakin lemah, darah segar terus mengalir menuruni kaki Ibu.

'Prittt!!!!...... (Safa! Safa!....) Pemenang lomba renang tingkat provinsi dijuarai oleh Safa! (riuh sorak sorai penonton berseru: Safa! Safa! Safa!...)'

Otak Safa terus bekerja atas pencapaiannya tadi pagi.

"Bu, bertahanlah. Safa akan memenangkan lomba renang di tingkat nasional. Ibu dan adik harus hadir diantara tamu VIP." Safa berbisik ditelinga kanan Ibu.

Tiga kilometer sudah berhasil dilewati, kurang seperempat perjalanan lagi untuk sampai di rumah sakit terdekat. Hujan datang terlalu dini untuk September yang Safa kira akan menjadi cuaca yang lebih bersahabat. Safa memasangkan tudung becak dan menutup bagian depan.

Kulit Ibu yang berwarna sawo matang, kian memudar seperti luntur tersapu air hujan. Pucat.

Tak ada satupun orang lain yang berhasil Safa temui. Jalan yang masih terjal tak lagi ramai seperti saat sebelum virus mematikan masuk di desanya. Desa Safa menjadi salah satu desa endemik virus itu. Orang sehat tiba-tiba sakit lalu meninggal. Termasuk ayahnya. Kini desa itu tersisa duaratusan penduduk saja, Ibu dan Safa adalah salah satu yang selamat dari peradaban paling memakan korban jiwa itu.

Desa Safa terlalu ujung untuk sebuah dataran di sebuah Ibu Kota Provinsi. Hanya ada satu akses jalan menuju kota. Itulah jalan yang kini dilalui Safa.

Akhirnya, Safa berhasil memasuki jalanan kota. Basah kuyup Safa diguyur hujan, keringat, dan air mata sekaligus.

***

Hanya itu yang bisa Safa kenang. Hari ini, Tuhan tak ingin Safa menanggung beban banyak. Beban Safa telah Tuhan tanggung.

Menjemput Ibu dan adiknya secara bersamaan. Melalui perbatasan ini, Safa menaruh jumpa. Perbatasan atas dunia yang amat berbeda. Bunga-bunga bertebaran menghidupi pucatnya nisan yang tertanam pada batas kekal dan semesta.


Image by Henryk Niestrój from Pixabay

Posting Komentar untuk "Jumpa di Perbatasan"

    Dapatkan cashback reksa dana dari Bibit senilai Rp25,000. Masukkan kode referral kopikim saat pendaftaran. Download Sekarang